Home Blog

Antisipasi Darurat, Donasikan Sabun Pencegah Korona

0
Penyerahan donasi kepada salah satu warga desa Sondakan, Surakarta (4/4)

Lapmisurakarta.com, Surakarta–Sumbangan sabun beserta alat cuci tangan di assemble point masyarakat seperti pasar dan tempat ibadah berlangsung pada Sabtu (4/4). Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi penularan Covid-19 yang merajalela saat ini.

Sosok Brilian Kusuma Ardi mantan Ketua Umum HMI Cabang Surakarta yang biasanya mengkritik tajam pemerintah ketika ditanya alasan melakukan tindakan tersebut tidak lain hanya untuk menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat di kala pandemi Covid-19 ini.

 “Saya itu gak suka NATO (No Action Talk Only. red), sementara virus ini mengancam nyawa banyak orang, saya ingin melindungi hak hidup masing-masing manusia di negeri ini,” ungkapnya

Beberapa masyarakat mengira bahwa pendanaan yang dialokasikan ini berasal dari pemerintah, seketika itu Brilian menyangkalnya.

“Tidak, tidak ada campur tangan dari pemerintah, saya diberikan sejumlah dana dari orang yang memang peduli terhadap kemanusiaan dan saat ini saya sudah tidak buka open donasi berupa uang,” imbuhnya.

Disisi lain, penerimaan donasi berupa sembako masih dibuka. Sembako tersebut akan disalurkan ke dapur umum dan dibagikan langsung kepada orang yang sedang menjalani isolasi maupun karantina di rumah masing-masing.

Ketika ditanya, Brilian masih enggan untuk menerangkan gerakan berikutnya ketika masyarakat menghadapi situasi pasca darurat sipil.

Tanggap KLB Covid-19, Gebregkan Sosialisasi Penuh

0

Lapmisurakarta.com, Opini – Status situasi Keadaan Luar Biasa telah ditetapkan kepala daerah dan kampanye pencegahan penularan Covid-19 telah dilakukan. Namun keadaan belum kembali normal sehingga perlu dinaikkan statusnya dan keadaan memaksa mengarah ke lockdown.

Lockdown merupakan tindakan karantina wilayah, bisa dimulai dari keluarga, RT, RW, Desa, Kecamatan maupun tempat-tempat umum yang artinya tidak ada akses keluar masuk di wilayah tersebut. Sehingga kebutuhan pokok dasar harus disiapkan.

Seandainya saya menjabat sebagai Kepala Desa, ada beberapa tahapan yang akan saya lakukan sebelum mengambil kebijakan lockdown di desa sendiri, yakni; (1) Mengumpulkan seluruh perangkat desa ditambah Bintara Pembina Desa TNI AD (Babinsa) dan Bintara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas), KUD, dokter, bidan, mantri desa dan tokoh masyarakat lainnya, (2) Mendata jumlah orang yang ada di desa, (3) Mendata stok sembako yang ada di desa, (4) Mendata kebutuhan sembako masing-masing individu selama kurang lebih tiga bulan, sehingga akan ada proses sinkronisasi antara ketersediaan dan kebutuhan, (5) Mencari kekurangan sembako ke desa atau tempat lain untuk menutup kebutuhan tersebut, (6) Selain kebutuhan pokok juga memastikan ketersediaan obat-obatan, hal ini menyesuaikan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan, (7) Sosialisasi lockdown dan memahamkan alasan lockdown ke masyarakat desa, sehingga warga tidak merasa dibuat panik oleh pemerintah (8) Meminta batuan dari Babinsa dan Babinkamtibmas untuk menertibkan keadaan lockdown, (9) Menyediakan hiburan di setiap masing-masing rumah, dipertimbangkan bahwa kaum milenial sekarang membutuhkan asupan hiburan yang konkrit seperti Kouta internet dan WiFi gratis, (10) Melakukan sosialisasi dan mengajak warga desa di masing-masing rumah untuk mengantisipasi ketika masa tenggang lockdown sudah habis dan keadaan belum membaik, (11) Memberikan reward tambahan kepada Babinsa, Babinkamtibmas, tenaga medis, karena ketika semua lockdown merekalah yang tetap bekerja, (12) Menetapkan keadaan lockdown terkini, (13) Mengerahkan seluruh anggaran desa untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Seperti halnya bahwa ‘Ekonomi yang mati masih dapat dihidupkan kembali tetapi ketika manusia yang mati tidak dapat dihidupkan kembali’. Dengan harapan keadaan lekas membaik dan saya optimis kita semua pasti mampu melewatinya.

Penulis : Brilian Kusuma Ardi

(Mantan Ketua Umum HMI Cabang Surakarta 2019-2020)

PGK Surakarta Gelar Diskusi Marketing Online

0

Lapmisurakarta.com – Surakarta | Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kota Surakarta menggelar diskusi umum gratis dengan tema “Marketing Online Jawaban Zaman” bertujuan memantik generasi milenial untuk produktif dalam memaksimalkan dunia digital di Foodcourt Gedung Insan Cita Surakarta, Jebres, Surakarta pada Kamis (13/2/2020). Narayana, praktisi marketing online turut hadir sebagai narasumber.

Abid selaku moderator dan juga perwakilan Komunitas Muslim Preneur memantik diskusi akan pentingnya kemandirian ekonomi.

“Generasi milenial memiliki lompatan pengetahuan yang sangat cepat dan jauh namun masih kurang paham dalam memaksimalkan dunianya (Revolusi Industri 4.0) sebagai perangkat dirinya untuk mandiri, terutama dalam hal kemandirian ekonomi,” kata Abid.

Narayana bercerita bahwa orang-orang yang sukses secara finansial dengan cara memanfaatkan kemajuan teknologi atau yang sering disebut sebagai Revolusi Industri 4.0.

“Tanpa disadari bahwa hari ini kemajuan teknologi telah berhasil mengintegrasikan dunia fisik, dunia digital dan dunia biologis. Internet sebagai salah satu fasilitas, memberikan kemudahan hampir dalam segala lini kegiatan manusia dan industri. Mulai dari konsumsi, kesehatan, keuangan, hiburan, pendidikan dan kebudayaan telah mengalami pergeseran dari konvensional menuju ke sistem digital,” jelas Narayana.

Suasana Diskusi PGK Surakarta

Lebih dalam, Narayana menjelaskan bahwa peluang usaha yang bisa dilakukan oleh generasi milenial sangatlah terbuka. Dropship dalam marketplace sebagai salah satu peluang usaha yang mudah, murah dan efisien menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan.

“Hari ini banyak orang berbelanja beralih ke marketplace karena selain praktis pola transaksi yang ada di marketplace semakin dapat dipercaya dengan sistem keamanan yang bisa dipertanggungjawabkan. Menjadi dropship online marketplace sangat menguntungkan karena seorang dropship tidak perlu lagi memikirkan produksi barang. Semua barang yang diinginkan oleh dropship telah disediakan oleh seorang seller, sehingga semakin menghemat biaya ketika memulai sebuah usaha”, jelas Narayana.

Acara diakhiri dengan foto bersama dan menyepakati pertemuan selanjutnya agar diskusi lebih intens. (Ardi)

Konfercab HMI Cabang Surakarta : Tantangan Zaman di Kepengurusan Baru HMI

0

Lapmisurakarta.com – Surakarta | Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta menggelar Konferensi Cabang ke XLVII dengan mengusung tema “HMI Hebat, Surakarta Kuat”, Jumat (31/1/2019). Konfercab dihadiri 7 komisariat penuh mulai dari masa pembukaan, konferensi hingga penutupan. Perwakilan komisariat ikut menyemarakkan Konfercab dengan satu peserta penuh dan satu peserta peninjau.

Konfercab adalah forum tertinggi pengambilan keputusan di tingkat cabang HMI. Kiprah HMI Cabang Surakarta di Kota Solo dikemas dalam tema Konfercab karena HMI merupakan organisasi perkaderan yang memiliki dedikasi, kesatuan dan kerekatannya kuat diantara para kadernya. Hal ini diharapkan agar HMI tercipta dalam kualitas yang terbaik.

“Konfercab ini adalah momentum untuk kawan-kawan komisariat untuk mengevaluasi kepengurusan dan menyampaikan saran-saran untuk kebaikan HMI Cabang Surakarta”, jelas Jihan Arsya Nabila selaku Ketua Panitia Konferensi Cabang.

Ketua Umum HMI Cabang Surakarta Periode 2018-2019, Brilian Kusuma Ardi, mengingatkan pentingnya menghormati hasil putusan forum Konfercab.

“Hasil-hasil konfercab ke XLVII HMI Cabang Surakarta merupakan hasil musyawarah seluruh komponen HMI Surakarta. Sehingga hasil tersebut harusnya kita hormati dan kita jalankan bersama. Bukan hanya Pengurus Cabang yang menanggungnya, tetapi seluruh komponen karena itu adalah hasil musyawarah”, kata Brilian dalam sambutan pembukaan Konfercab, Jumat (31/1/2020).

Selain itu, Hari Kusuma Dharmawan, perwakilan Badko HMI Jateng-DIY juga menambahkan bahwa kader HMI harus mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada.

“HMI harus mampu mengikuti perubahan zaman. Apalagi cara perkaderannya yang masih kuno atau masih dilakukan seperti 10-20 tahun yang lalu. Kebanyakan di HMI masih menggunakan sistem lama. Istilahnya masih terpaku pada senior sebelumnya. Seiring berjalannya waktu hingga zamannya berubah, maka pola yang digunakan harus mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, maka akan tergerus oleh perkembangan zaman”, jelasnya Hari, Sekretaris Umum Badko Jateng-DIY.

Dalam Konfercab kali ini ada dua kandidat yang berkontestasi, Yanuar Faishal Muhammad dari Komisariat Hasan Albana dan Romadhon dari Komisariat Fakultas Hukum UNS. Hasilnya, Romadhon terpilih sebagai Formateur HMI Cabang Surakarta Periode 2020-2021.

Kiri : Brilian Kusuma Ardi, Demisioner Pengurus 2018-2019 | Kanan : Romadhon, Formateur 2020-2021

Konfercab berakhir dengan suka cita. Semua pihak yang terlibat berharap semoga kepengurusan baru ini bisa membangun HMI Cabang Surakarta lebih unggul dan berkompetensi. Berdasarkan pantauan di lapangan, kegiatan Konfercab ini berlangsung lancar dan ditutup secara resmi pada Minggu (2/2/2020).

Pada kesempatan inilah Romadhon sebagai Formateur HMI Cabang Surakarta menyampaikan gagasannya bahwa, HMI kedepan perlu membuat langkah strategis dalam menyikapi perkembangan zaman, hal ini tidak bisa dipungkiri adanya perkembangan teknologi informasi yang pesat. Orang-orang hari ini hidup di era milenial yang dikelilingi kecanggihan teknologi khususnya internet, mau tidak mau harus adaptif terhadap perubahan zaman, pola perkaderan juga harus berbeda. Bukan secara konvensional lagi seperti dahulu, tetapi kita harus bisa mengingat karakter mahasiswa yang sudah berbeda, karena mahasiswa hari ini lahir dari konstruksi teknologi.

“Pandangan mereka terhadap kampus, mahasiswa, organisasi terlihat berbeda. Sesegera mungkin HMI harus responsif terhadap perubahan guna menyusun ulang pendekatan-pendekatan yang dilakukan sesuai kebutuhan dan ketertarikan mahasiswa di kampus. Hal yang terpenting dalam HMI yaitu bagaimana mendidik kader supaya memiliki kesadaran akan peranannya sebagai kader umat dan kader bangsa. Peranan tersebut tidak akan tersampaikan jika nilai-nilai ke-HMI-annya tidak terinternalisasi dengan baik,” bebernya.

Pelantikan Pengurus HMI Komsat FKIP UNS, Harapkan Kepengurusan Progresif

0

Wira Drana, Ketua Umum HMI Cabang Surakarta, Komisariat FKIP UNS baru saja dilantik pada (18/1) yang bertempat di  Gedung Insan Cita HMI Cabang Surakarta Lantai II.

Acara pelantikan ini mengundang dari berbagai elemen Komisariat Cabang Surakarta beserta Komisariat Cabang Sukoharjo.

Peserta yang dilantik tampak lebih antusias dalam mengucap ikrar pelantikan, dirasa dapat terlihat semangat baru dalam memulai awal kepengurusan.

Kali ini pilihan tema yang diangkat “Terwujudnya HMI Komisariat FKIP UNS yang aktif dan bersinergi untuk menciptakan kader yang progresif”. Ada berbagai pertimbangan dalam pemilihan  tema kali ini, yakni  ingin mewujudkan keaktifan pengurus dari sebelumnya.

Wira sendiri dalam mengawali sambutannya berharap lebih baik untuk kedepannya.

“Bersinergilah untuk gerak bersama dengan menumbuhkan kerja sama baik internal maupun eksternaL di lingkup elemen HMI Cabang Surakarta” jelasnya

Dalam sambutannya ketua umum Demisioner, Sigit Dwi Nugroho yakin bahwa kepengurusan ini akan amanah dan bisa diperjuangkan.

“Teruslah berproses sampai apa yang kalian lakukan bisa diikuti orang lain, sehingga apa yang menjadi cita-cita kalian bisa terwujud” bebernya

Senada dengan sambutan Ketua Umum HMI Cabang Surakarta Komisariat FKIP UNS, Brilian Kusuma Ardi mengapresiasi bahwa saat ini, detik ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dari sebelumnya. Untuk mengembangkan HMI dengan mengemban amanah yang tidak mudah ini diperlukan usaha keras dan kerjasama yang bisa mewujudkan kekuatan dalam berhimpun.

Ketika hari ini kita dihadapkan dengan berbagai macam persaingan dan tantangan, maka harus bergerak kedepan. HMI harus berani dan percaya diri dalam mengekspresikan diri di masyarakat.

Pada akhir sambutannya, Brilian menekankan kembali bahwa hasil-hasil Rapat Anggota Komisariat bukanlah pengalihan tanggung jawab semata. Namun semua anggota ikut terlibat dalam sebuah forum,musyawarah dan wajib merealisasikan secara bersama-sama.

“Kalian sebagai pengurus harus bisa memastikan kegiatan yang berjalan sesuai dengan hasil-hasil Rapat Anggota Komisariat  dengan baik. Untuk Majelis Pengawas dan Konsultasi Pekerja Komisariat sebagai pengawas dan konsultasi dari pengurus” tandasnya.

Simposium Pendidikan Mn Kahmi Teknologi, Industri Dan Pendidikan

0

UNS – Dalam rangka memperingati MILAD HMI ke 72, KAHMI bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam cabang Surakarta untuk mengadakan agenda Simposium Pendidikan. Acara ini di laksanakan hari Sabtu, 16 Februari 2019 yang bertempat di UNS INN yaitu sebuah HOTEL milik Universitas Sebelas Maret sendiri. Acara ini dibuka pada pukul 09.00 itu mengahadirkan 4 pembicara dan 1 lagi rektor UNS sendiri selaku tuan rumah. Laporan ketua panitia yaitu bapak Abdu Rahman, bapak Menristekdikti Mohammad Nasir diwakilkan bapak Muhammad Timyati, direktur penguatan riset dan kementerian risetdikti. Bapak Kemendikbud, Muhajir Effendi, diwakili bapak Ananto Kusumo Seto, kepala staff pengembangan inovasi dan daya saing bangsa. Tujuan dari simposium ingin memberikan masukan untuk dipertimbangkan dalam jenjang pendidikan. Nah tujuan setelah mengikuti simposium ini adalah memberikan kebijakan strategi untuk sumbangan kepada pemerintah, marilah kita berpikir yang lebih mendalam dan kritis tentunya.

Acara ini di buka oleh kakanda Prof. Laode selaku presidium majelis nasional. Beliau kemudian sedikit membahas mengenai pendidikan di Indonesia itu seperti apa jika di pengaruhi oleh teknologi, maka barulah memulai sesi pembicara utama yang pertama mengenai Pembangunan SDM dan Perbaikan Segala Bidang oleh bapak Timiyati. Kita tahu bahwa dunia dipenuhi dengan teknologi, warga Indonesia dihadapkan dengan hal itu sedangkan negara luar seperti Jepang sudah bisa menyeimbangkan penggunaan teknologi, mereka mampu menggunakan. Seperti halnya penggunaan teknologi transportasi go-jek, bisa jadi 10 tahun ke depan akan menjadi go-drown untuk pergi, sehingga untuk mengurangi kemacetan. Dalam mengantisipasi hal ini maka kita mempunyai peluang yang luar biasa dalam menghadapi bonus demografi, maka dengan ketersediaan waktu beberapa tahun ini kita sebagai mahasiswa juga pendidik serta masyarakat harus bisa mengatur dan mengelola mengenai perekonomian juga teknologi yang ada, karena dari situlah yang akan menentukan keberhasilan dalam menyikapi bonus demografi tersebut. Intinya bahwa perkembangan teknologi ini membuat manusia terlena, semua praktis jika untuk memulai usaha tanpa memiliki modal sedikitpun, itulah bagaimana kita harus bergegas mengikuti perkembangan teknologi agar tidak terlindas teknologi yang berkembang.

Pembicara utama yang kedua adalah Mendikbud yang diwakili oleh bapak Ananto.  Kata beliau bahwa tugas pendidikan itu ada 2, yaitu menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan zamannya, pendidikan dapat dikatakan sukses apabila siswa bisa terfasilitasi. Seperti halnya sebuah pengetahuan zaman sekarang dengan dahulu berbeda, jika sekarang ilmu pengetahuan itu harus di imbangi dengan teknologi, jika tidak ya tidak akan berkembang pula sistem pendidikannya.

Dengan berkembangnya teknologi ini maka jenis pekerjaan nantinya akan digantikan oleh mesin robot. Maka dari itu penggerak pendidikan harus bisa bagaimana cara mendidik anak, dan bagaimana menghasilkan lulusan untuk mencetak teknologi yang sekarang belum bisa. Begitulah segala produktivitas perlu di upgrade karena tingkat inovasi kita masih di proses no 5 di asia.

Sebagai manusia yang ditakdirkan menjadi manusia berpendidikan, maka kita sebagai pendidik mempunyai keharusan dalam melakukan sebuah perefleksian untuk terus melakukan:

  1. Pendidikan itu memanusiakan manusia, meski dengan kemajuan teknologi sesuatu hal itu tidak bisa di rubah nilainya, janganlah merobotkan manusia.
  2. Mendefinisikan sosok lulusan, kita harus mengerti batasan lulusan seperti apa, sistem apa yang akan kita bangaun
  3. Perbaikan kurikulum, hal ini sangat penting bagi guru atau dosen, tanpa kurikulum pendidikan tidak akan tercapai, serta sebisa mungkin kurikulum di buat secara fleksibel
  4. Mengintegrasikan karakter literasi dan kompetensi, perlu pemahaman lagi bahwa literasi itu bukan hanya membaca, tapi juga menulis berkarya bahkan sekarang literasi adalah dalam bentuk digital.

Inilah bentuk kolaborasi teknologi industri 4.0 yang di terapkan dalam pendidikan, karena teknologi 4.0 cirinya berkolaborasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam.

  • Membentuk intepreneur muda, maksud disini yaitu bahwa kita harus mengembangkan ide-ide kreatifitas dalam berkarya entah apapun, jika pendidikan maka kita harus kreatif menerapkan model pembelajaran yang efektif seperti; HOTS, PBL dan yang sering digunakan adalah INQUIRY.

Tenaga kerja itu bukan di tuntut berapa nilai ijazahnya, IPK nya, lulusan apa, namun lebih ditekankan pada aspek bagaimana kamu mampu melakukan pekerjaan itu tidak. Jadi marilah kita mengubah pendidikan kita, gunakan otak kiri dan kanan secara seimbang, kebanyakan kita menggunakan otak kiri kita sebagai arah kelogican atau dunia teknologi 4.0 ini salah satunya. Sedangkan otak kanan adalah aspek emosional diri seperti simpati, empati, kolaborasi, crithical thinking guna mengubah teknologic skill menjadi human skill.

Pembicara yang di undang di moderatori oleh bapak Munawir Yusuf

Pembicara pertama yaitu bapak Muchlas Samani, beliau akan menyampaikan mengenai Problematika Guru.

Diawali dengan pembahasan mengenai buku yang membahas mengenai tunjungan guru atau dosen yang tidak merubah cara mengajar, anak sekolah itu tidak belajar, SMK itu adalah salah jurusan. Jika dalam bersekolah yang berperan guru, dosen atau siswanya? Dan pada hal ini akan terjadi pembaharuan kurkulum.

Kini disebutkan jelas bahwa masalah yang ada pada guru adalah:

  1. Distribusi

Realitanya yaitu bahwa penyebaran guru mengajar tidak merata, kebanyakan guru berada di kota, sedangkan di desa sedikit bahkan sampai tidak ada gurunya.

  • Ketersediannya grand desain guru

Maksudnya apakah ada pembinaan dan pelatihan guru, termasuk pembagian tugas guru secara jelas, bahkan mungkin terjadi tumpang tindih juga kekosongan.

  • Ketidaksignifikanan mutu guru

Hal ini berkaitan dengan uji coba, prestasi maupun kesiapan pengajar, karena nilai yang ada kadang tidak ada bedanya antara S1, S2 maupun S3.

Menurut UU 14 tahun 2005, bahwasanya pengajar itu direkrut dari lulusan PPG, karena syarat mengajar adalah memiliki sertifikat atas hasil profesi.

Hal ini maka bagaimana solusinya dan bagaimana KAHMI dapat berperan di sana?

  1. Menjaga keseimbangan supply-demand.
  2. Melakukan pembinaan guru PPG
  3. Menyiapkan mutu guru yang profesional

Bapak Muchlas mengusulkan jangan menutup S1 karena akan sia-sia, gedung sudah tersedia. PPG dikendalikan. Kita perlu menyiapkan guru yang lebih profesional dibandingkan guru di masa lalu, karena nanti sekolah kita berubah, contoh: sekolah online.

Pembicara yang kedua adalah bapak Ravik Karsidi yang akan menyampaikan mengenai Revitalisasi Pendidikan Kebangsaan. Sesuatu hal yang mencakup komponen pendidikan yang bersifat dasar yaitu pendidikan kebangsaan.  Ada berbagai masalah dalam kebangsaan yang diakibatkan  oleh:

  1. Kebingungan dalam menyikapi dampak revolusi, perubahan terjadi dari tahun ke tahun, yang dita pertanyakan adalah apakah bangsa kita siap menghadapi sebuah revolusi tersebut? Pada dasarnya bangsa kita masih bingung apa yang akan diperbuat.
  2. Proses dehumanisasi, yakni sesuatu yang akan menimbulkan kesulitan dalam mencari perlindungan sosial
  3. Proses industrialisasi, industrialisasi adalah adanya proses perubahan teknologi dari sederhana menjadi modern. Hal ini juga akan menimbulkan konflik antara skala dan sifat bangsa itu sendiri.

Dari akibat diatas maka akan menimbulkan krisis kebangsaan, yang mana mereka akan menguatkan paham radikal dan menganggap lunturnya nilai kebangsaan, ya karena hal ini dikaitkan dengan paham agama. Pun cara pandang Radikalisme itu berbeda dengan agama, karena radikalisme lebih menekankan kodrat Indonesia adalah plural, maka berkembangnya pandangan bahwa hanya dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar adalah salah satu prinsipnya. Bagaimanapun juga bangsa Indonesia harus bisa menghadapi tantangan kebangsaan ini, mereka yang harus menghayati kebhinekaan Indonesia serta menjadi patron keteladanan sikap dan perilaku dalam menciptakan keharmonisan, kesatuan bangsa.

Selanjutnya pembicara yang terakhir adalah bapak Dede mengenai Relasi Pendidikan dan Industri.  Ekonomi dan industri jika dikuasai, maka umat muslim akn memimpinnya. Sebuah bisnis ekonomi yang paling kuat dan besar adalah batu bara, di sana batu bara di olah kemudian di jual, yang kedua adalah  sawit,  yang dijual yaitu bahan minyak curahnya.

Ada sebuah pemaparan data bahwa afirmasi riset indonesia itu kurang, dibandingkan dengan jepang dan korea selatan. Melihat dari negara yang mengembangan inovasi juga teknologi dengan baik, hal itu di karenakan karena ada sebuah mandat yang mereka itu ditugasi untuk membuat kebijakan pengembangan tersebut, salah satunya adalah riset seperti publikasi internasional, dan yang paling bagus sat ini yaitu jurnal yang berindeks skopus jika di Indonesia, merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Sekarang perguruan tinggi diminta untuk membuat program spin off, itu adalah Inkubasi bisnis, yaitu penemuan peneliti dalam menemukan teknologi baru untuk menghasilkan produk. Nah itulah Indonesia akan menjadi baik jika umat manusianya bisa menguasai teknologi. Salah satu untuk menjadi negara yang kreatif dan maju, maka kita harus memperkuat temuan baru teknologi untuk bisa dipublikasikan sampai penjualan dan guna meningkatkan perekonomian bangsa. Oleh karena itu sebagai warga negara tidaklah mengandalkan Sumber Daya Alam saja, karena lama keamaan akan habis jika di pakai terus menerus.

“Tetaplah Kokoh Himpunan Tuaku”

0

Himpunan mahasiswa islam di dirikan oleh Lafran Pane  pada tanggal 05 Februari 1947 yang bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H di kediaman kota Yogyakarta. Ingatkah apa tujuan awal di dirikannya HmI teman.? Tujuannya yaitu menjaga keutuhan NKRI, mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan menegakkan juga mengembangkan agama islam. Sampai sekarang tujuannya bukan seperti itu lagi kan? Ya tujuannya yaitu “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafkan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang di ridhoi Allah SWT. Saya suka sekali dengan bunyi tujuan HMI ini, entah kenapa? Tapi yang terpenting adalah tujuan itu berhasil di realisasikan.  

Himpunan ini adalah sebuah organisasi mahasiswa yang berfungsi sebagai organisasi kader dan berperan sebagai organisasi perjuangan.  Mengingat organisasi sudah berumur sangat tua, yakni 72 tahun, artinya sudah lanjut Usia. jikalau sudah lansia berarti sudah tidak produktif lagi. Sama dengan organisasi ini, oleh karena itu di usia yg sudah tua ini, HMI perlu di tumbuhkembangkan lagi gerakannya. Maka bagi generasi milineal sekarang di harapkan mampu untuk menjaga nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam sebuah organisasi ini. Kita tahu bahwa organisasi ini bersifat independen, maka selayaknya menjadi contoh bagi organisasi lainnya, berani untuk mewujudkan serta merealisasikan tujuan dalam serta amanah yang di emban sampai sekarang ini. Jangankan kalian menghianati demi kepentingan pribadi.

Aktivis HMI di kenal dengan corak literasinya tinggi, nalar kritisnya juga, sangat bagus lah,  berbagai fenomena yang terjadi mungkin sangat jelas jika kita menyaksikan bagaimana mereka bertindak. Seharusnyalah kalian menjadi kader yang mencerminkan organisasinya dan marilah kita jaga etika kita dan menjunjung nilai keislaman.

Pada tahun ini, tahun yang ke 72, merupakan hari sebagai aksi perayaan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam, yang mana seluruh cabang HMI Indonesia merayakan dengan membuat berbagai agenda. Beberapa postingan di Instagram banyak sekali agenda mulai lomba penulisan essay yang sekarang saya ikuti ini, lomba penulisan puisi, lomba desain logo, juga diskusi dan terakhir pada sore atau malam hari dilanjutkan dengan tasykuran yang di adakan di sekretariat cabang maupun aula KAHMI masing-masing. Memang kita tidak bisa merasakan kembali bagaimana perjuangan aktivis zaman dahulu, sangat keras dan bahkan sampai terpecah menjadi dua MPO dan DIPO. Meskipun sampai sekarang masih berjalan berdua, namun himpunannya tetap rukun. Itulah mengapa kita sebagai anak dari generasi tua, membantu dan meneruskan perjuangan beliau para aktivis sesuai dengan fitrah dan perkembangan zaman yang berlaku.

Akhir-akhir ini memang ada suatu peristiwa yang menurut saya kurang baik di mata organisasi, seperti dunia literasi di berbagai wilayah rendah, kajian keislamannya rendah bahkan sikap kritisnyapun kurang direalisasikan. Baru-baru ini juga pada perayaan Dies Natalis HMI di rumahnya bapak Akbar Tanjung, seketika ada rumor bahwasanya di sana ada pendeklarasian dukungan pada pasangan capres-cawapres tertentu. Hal ini sangatlah tidak benar, seseorang kemudian menghimbau kepada seluruh alumni HMI maupun HMI sendiri untuk terus mengembangkan tradisi tabayyun dalam menghadapi berbagai isu, berita, informasi yang menyebar serta belum jelas kebenaran dan sumbernya. HMI selalu begitu, namun kita harus tetap kuat, jangan jatuh hanya dengan berita hoax yang menjadi racun bagi kadernya. Oleh karena itu kita perlu sadar diri akan pentingnya menjunjung harkat dan martabat sebuah organisasi, keindependennannya harus di tegakkan, jangan sampai kalah dengan organisasi lainnya. Harapan saya di tahun 2019 ke depan entah di cabang manapun bisa memperbaiki kebijaksanaan dalam himpunan ini. “ Bercermin kepada sejarah, bergerak untuk hari ini, dan berfikir untuk masa depan”. Sebuah kata-kata sebagai pedoman juga pengingat untuk memperbaiki kiprah HMI, dengan sejarah kita bisa melangkah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Generasi muda akan peka terhadap keadaan sekarang selagi ada teknologi modern, kita gunakan untuk hal yang bermanfaat.

Bahagia HmI, Jayalah Kohati, YAKUSA!!! Yakin Usaha Sampai!!!

Oleh : Fajar Nur Annisa

Surakarta, 5 Februari 2019

Refleksi Milad HMI ke-72 “Bergegaslah Berubah dan Carilah Jalan Keluar demi Himpunan kita”

0

Pertama-tama mari mengulas sejarah HMI terlebih dahulu, sudah tahu kan sejarah itu apa? Sejarah adalah suatu kilas perjlanan manusia pada masa lampau yang biasanya di gunakan sebagai acuan atau cerminan diri untuk masa depan, ya intinya sebagai pengingat lah. HMI adalah kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Islam. Bahwasanya kita pasti sudah hafal siapa, kapan dan dimana HmI di dirikan, ya Himpunan ini di dirikan oleh Lafran Pane  pada tanggal 05 Februari 1947 yang bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H di kediaman kota Yogyakarta. Ingatkah apa tujuan awal di dirikannya HmI teman.? Tujuannya yaitu menjaga keutuhan NKRI, mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan menegakkan juga mengembangkan agama islam. Sampai sekarang tujuannya bukan seperti itu lagi kan? Ya tujuannya yaitu “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafkan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang di ridhoi Allah SWT. Saya suka sekali dengan bunyi tujuan HMI ini, entah kenapa? Tapi yang terpenting adalah tujuan itu berhasil di realisasikan.

Ciri khas yang di miliki HMI adalah bersifat Independen, yakni sebuah organisasi mahasiswa yang sejak dahulu berdiri sendiri tanpa adanya pihak maupun partai yang mengoalisikan. Sebuah organisasi paling tua diantara organisasi lainnya, sampai sekarang Alhamdulilah masih tetap eksis dan menyebar ke seluruh kota bahkan ada negara di Malaysia. Hal itu karena adanya unsur keindependensiannya sebagai organisasi kader.

Sekarang, saya akan menulis sedikit bagaimana keadaan Himpunan kami hingga sudah mencapai umur ke-72 tahun, semoga akan tetap kokoh walaupun sudah bertambah angka banyak. Mari kita pandang HmI zaman dahulu dan sekarang! Bayangkan saja deh. Dahulu nilai-nilai keislaman sangat kuat, ya namanya juga berasaskan Islam. Kalian tahu sendiri kenapa Islam? Ya karena Islam itu adalah sebuah agama yang di ridhoi Allah dan merupakan ajaran yang haq sempurna. Namun, zaman sekarang nilai-nilai keislaman sudah mulai memudar, ya bukan memudar lah tapi sedikit demi sedikit mulai mengikis luntur. Seperti halnya sekarang adalah sebuah kepentingan dan kekuasaan kebanyakan telah meracuni individual kader. Menginjak revolusi industri 4.O dan mulailah kita berjalan bebas dengan sendirinya mengikuti perkembangan zaman, politikpun bebas beredar dimana-mana. Keadaan kepengurusan dalam struktur organisasi seenaknya sendiri hingga menimbulkan kontroversi, hingga berlanjut kepanjangan. , waooo keras sekali kan. Rumiit sekali pokoknya, karena mereka mementingkan diri sendiri.

Bukan hanya persoalan keislaman saja menurut saya, ada seperti sebuah kecerdasan, keintelektualan seorang kader juga berbeda. Bagaimana ayo kita pertanyakan tingkat literasi kader HmI?mungkin susah ya, ya rendah dan ada yang tinggi, karena ini berdasarkan wilayah masing-masing bagaimana seniornya mengajarkan dan memberikan sebuah contoh kepada kader juniornya.

Ada lagi, mungkin mengenai keseriusan ber HmI teman, pada dasarnya ada sebuah keluhan bahwasanya mencari kader HmI adalah susah gimana begitu, karena yang dulunya menjadi organisasi internal berlanjut menjadi eksternal dan baru-baru ini ada keputusan akan di jadikan organisasi internal. Mungkin tidak masalah seperti itu, yang dipermasalahkan adalah pendidikan kader dan cara berpikir kader itu sendiri. Kader HmI di tuntut untuk berpikir kritis, krisis, cepat dan tanggap menghadapi sesuatu hal.

Saya mau tanya, apakah anggota kader yang kalian rekrut akan selalu stay di Himpunan kita ini? Ku pikir tidak, adakalanya mereka akan bosan dan ingin keluar pastinya.  Menyikapi hal tersebut maka perlu kesolidan antara pengurus dan anggota, pikirkan bersama solusi terbaik dan jangan hanya diam membiarkannya pergi, renungkanlah apa kesalahan diri kita pribadi. Ya itu juga bisa di jadikan sebuah refleksi keorganisasian kita.

Bisa saya simpulkan bahwasanya karena penyebaran Himpunan Mahasiswa Islam ini di berbagai wilayah jawa maupun luar jawa, ya tidak serta merta akan sama pola ber HmI nya. Maka dari itu, marilah kita menjadi angota himpunan yang bersinergi, bersatu dalam tubuh, jiwa dan pikiran yang sama untuk mencapai tujuan yang berkeliang di kepala kita demi mencapai sebuah peradaban yang memumpuni tanpa mengurangi sebuah nilai yang diajarkan dan dititipkan oleh bapak kita Lafran Pane.

Kita generasi muda, generasi emas dalam Himpunan Mahasiswa Islam, sadarlah dan bangkitlah!!!! Selamat milad himpunanku, himpunanmu yak pastinya adalah himpunan kita semua yang ke-72 ini, semoga semua problema bisa teratasi dan kembali berjalan normal kala masa engkau bapak Lafran Pane. Perjuangan yang rumit adalah sebuah ujian bagi diri kita, maka jangan pernah merasa terbebani dan putus asa terhadap aktivitas yang kita lakukan.

Bahagia HmI, Jayalah Kohati, YAKUSA!!! Yakin Usaha Sampai!!!

Oleh : Fajar Nur Annisa

Surakarta, 10 Februari 2019

Seven Deadly Sins dan Dosa Kebodohan

0

Dunia maya memang ibarat belantara asing. Luas, namun tanpa arah. Bulan ini, ramai diberitakan ihwal penangkapan administrator akun Twitter @TM2000 oleh Penyidik Subdit Cyber Crime, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. RN disinyalir melakukan tindakan pemerasan terhadap salah satu petinggi PT. Telkom, berinisial AS. RN juga diduga sebagai aktor interlektual di balik penyerangan akun twitter tersebut. Jamak kita ketahui, sebelum berganti nama menjadi @TM2000, akun ini bernama @TrioMacan2000. Akun yang mahsyur karena sering memberi kritik politik pedas pada para politikus Indonesia ini juga sempat membuat heboh lini massa ketika sempat memunculkan isu perselingkuhan Inggrid Kansil, istri mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarief Hasan dengan Ryan Syarif (CNN Indonesia, 2014).

Kasus diatas hanyalah satu dari ratusan atau lebih kasus yang menjamur di dunia maya baik di dalam maupun di luar kendali tim penyidik. Pekan ini, jagad dunia maya juga digemparkan oleh kasus MA yang menghina Presiden Jokowi lewat fitur gambar. Selain itu, kita telah kenyang dan kritis pada banyak akun juga situs-situs yang terkenal melakukan aksi propaganda ke masyarakat maya dengan menyebarkan fitnah atau kebencian.

Dunia dalam jejaring (daring) dipenuhi oleh manusia-manusia yang mengerti teknologi digital, namun sebagai manusia mereka tentu memiliki motif yang berbeda-beda. Dunia bayang-bayang ini tidak hanya berisi manusia berpengetahuan yang menyebarkan kebaikan, namun juga jenis manusia yang tidak bertanggung jawab. Motif bisnis, politik, sosial, budaya bahkan sekadar iseng-iseng berjalin-kelindan menjadi satu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang menunjukan kesetiaannya terhadap moralitas, namun dalam dunia digital ia adalah manusia ingkar. Sebaliknya, di alam nyata ia adalah sejenis manusia yang tidak patuh terhadap moralitas, namun di dunia maya ia memoles kepribadiannya tersebut melalui citra virtual.

Saya ingin menarasikan sebuah paradoks, atau mungkin layak juga disebut ironi. Begini. Setiap hari saya menulis berita. Berita saya mengandung 5W+1H layaknya hardnews, saya unggah di laman dotcom dan dibaca oleh minimal ribuan pembaca tiap harinya. Apakah saya seorang jurnalis? Bukan. Saya hanya seorang kepepet yang kadang butuh uang untuk makan dan membeli buku. Saya adalah kacung dari tuan dotcom (pemilik ratusan domain dotcom) yang dikelola untuk menjadi lahan subur bagi dollar.

Saya tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik. Dalam menghasilkan berita, jika kebetulan saya sedang senggang, maka berita akan saya sunting dan verifikasi berdasar teknik perbandingan sumber berita mayoritas. Tapi jika saya sedang sibuk “jika tidak layak menyebut malas” tak jarang saya hanya melakukan kerja copy-paste dari sumber mana suka untuk memenuhi tenggat pekerjaan. Berita produk copy-paste itu tersebar luas dan nyatanya mendapat minimal viewer mencapai angka puluhribu dalam hitungan jam. Viewer terkonversi menjadi Dollar. Dollar diperoleh Bos saya. Saya puas hanya dengan recehan.

Situs itu memakai nama dan design meyakinkan hingga tampil layaknya portal berita profesional. Siapa saja ‘jurnalis’ situs dotcom itu? Saya juga tidak tahu. Maaf, saya menjadi buruh ketika benar-benar kepepet. Bos saya tiap bulan bisa saja ganti-ganti. Seringnya, kami jarang kenal atau bertatap muka. Jika relasi dengan Bos saja begitu, apalagi antar buruhnya –yang saya tak tahu kualitas mereka; mungkin lebih baik atau lebih buruk dari saya. Pertanyaan akhirnya, kenapa saya mau melakukan pekerjaan semacam itu? Dalam hal ini, kembali saya menjawab ringan,”Apa anda yakin bahwa yang saya ceritakan itu memang benar saya pribadi atau saya hanya sekadar menarasikan?”. Itulah absurditas dunia dalam jejaring.

Kovach dan Rosenstiel dalam Sembilan Elemen Jurnalisme (2001) memaparkan sembilan unsur yang menjadi keabsahan laporan jurnalistik. Hal pertama dan utama yang selalu menjadi perdebatan adalah perihal kebenaran. Dalam setiap isu, masyarakat akan selalu bertanya : Kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? Bukankah tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat pemikiran punya dasar perihal kebenaran yang tidak sama identik sama satu dengan yang lain?

Kebenaran jurnalisme media menurut Kovach adalah apa yang disebut sebagai kebenaran fungsional, yakni tentang prosedur dan proses. Kebenaran dalam jurnalisme adalah terlaksananya teknik penggalian informasi serta disiplin verifikasi. Jamak dalam semua profesi, sebenarnya memberlakukan kebenaran sejenis. Polisi, hakim, guru, pemimpin perusahaan adalah para justifier kebenaran fungsional. Kebenaran dalam jurnalisme bukanlah kebenaran secara hakikat, filsafati, namun sebatas kebutuhan seseorang kepada informasi yang faktual dan aktual.

Problematikanya adalah, jika projournalism (jurnalisme profesional) bekerja berdasar sembilan iman jurnalistik Bill Kovach, yang masih sangat memperhatikan kebenaran fungsional, lalu dengan apa situs-situs dotcom tersebut bekerja? Seven Deadly Sins.

Lukas Luwarso dalam buku Pelanggaran Etika Pers (2007) menyebut ketujuh dosa besar itu adalah : Penyimpangan informasi, dramatisasi fakta, serangan privasi, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracuni pikiran anak dan penyalahgunaan kekuasaan. Sayangnya, tujuh dosa besar itulah yang memiliki lahan Dollar di Indonesia. Situs-situs dengan topik seks, hiburan dan kecantikan tercatat paling banyak diakses dalam negeri darurat karakter ini.

Seven Deadly Sins adalah iman para bos peternak dotcom (yang kadang tak malu menyebut diri melakukan kerja citizen journalism). Berdasarkan iman seven deadly sins, situs-situs itu dapat mengelola ratusan domain per hari hanya dengan memainkan kata kunci untuk menyusun artikel hingga jebakan-jebakan pada level judul. Mereka sangat paham budaya masyarakat yang gemar bergosip dan anehnya kehidupannya menjadi sangat dinamis berkat gosip. Mereka sangat paham bahwa hari ini banyak orang justru ingin menunjukkan bahwa saya tahu lebih dulu, saya tahu lebih cepat, dan saya tahu lebih banyak. Maka, berlomba-lombalah orang mengumpulkan berita, berkomentar, menyebarluaskan kejadian atau informasi lewat media digital yang tidak dikekang-kekang, tidak disunting-sunting, tidak dikontrol oleh pemilik media.

Hiperrealitas dunia maya membuat manusia menjadi asing dengan dirinya dan dunia sekitarnya. Yasraf Amir Pilliang (2011) menyebut hiperrealitas sebagai sebuah kondisi terhadap matinya realitas, yaitu diambilnya posisi realitas itu oleh apa yang sebelumnya disebut nonrealitas. Ia mewujudkan dirinya menjadi realitas artifisial yang bersifat faktual, lewat kemampuan sains dan teknologi seni dan citra. Ia adalah sebuah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas telah dilampaui dan diambil alih oleh substitusi yang tercipta secara artifisial lewat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya, banyak orang mati-matian membela antau menyebar fitnah dan caci maki pada Nabi-Nabi baru dalam dunia jejaring, dengan kerelaan, tanpa memperoleh sanjungan apalagi imbalan.

Selamat datang pada mazhab berita dimana orang merasa bebas untuk menyampaikan apa yang saya ingin sampaikan tanpa rasa was-was, tanpa rasa malu ataupun bersalah. Toh, kalau kemudian ternyata apa yang  diwartakan tak sesuai kenyataan, itu adalah hal gampang, tinggal koreksi dan buat saja berita baru. Untuk situs detikan, hal tersebut adalah lahan subur bagi Dollar.

Oleh : Kalis Mardi Asih; Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Surakarta

Surakarta, 14 November 2014

Masih Berperankah HMI untuk INDONESIA ?

0

Indonesia sudah tidak dikatakan muda lagi sebagai sebuah negara, sejak di proklamirkan pada tahun 1945 bulan Agustus, sekitar 64 tahun yang lalu. Sudah banyak perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Dari perekonomian yang mulai merangkak, sosial mengalami pembaharuan ke arah masyarakat modern dan informasi, serta perombakan kepemimpinan dan politik yang belum juga menemukakan jati diri.


Sejarah Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjuangan HMI, beberapa tokoh bangsa non-HMI juga membenarkan pernyataan tersebut. Hal ini tidak lepas dari lahirnya HMI yang selaras dengan jalan perjuangan bangsa mempertahankan kedaulatan NKRI. Sebut saja setelah beberapa saat penjajah kembali dan beberapa pemberontakan yang terjadi di dalam negeri. HMI sedikit besar berperan memperjuangkan tegaknya NKRI. Dalam peristiwa ini, yang peling mencolok adalah pada saat DN AIDIT, ketua PKI saat itu setelah Tan Malaka, mengingkan untuk membubarkan HMI sebagai organisasi Islam. “pakai sarung saja jika tidak bisa membubarkan HMI” teriak DN AIDIT. Namun apa kenyataannya, HMI masih berdiri kokoh hingga sampai saat ini.

Sejarah memberikan kita cermin, bagaimana kita bersikap dalam segala situasi, memberikan kita referensi untuk bertindak di tengah dinamika yang terjadi, yang terus berubah dan berkembang. Namun sejarah tidak lantas menjadi piala yang harus menjadi bantal untuk berimpi, dan terus menikmati dalam romantisme stagnasi. Justru dari sejarahlah seharusnya kita dapat belajar, bagaimana kita saat ini berperan.

Keadaan sekarang, diamnya anak merdekaan secara legalitas dan pengakuan atas kedaulatan sudah terbentuk, apakah HMI masih mempunyai peran yang berarti untuk membangun. Mungkin ini masalah yang masih menjadi janggalan, yang kemudian solusinya menjadi dasar arah gerak bagi organisasi tertua di Indonesia ini. Lalu pada kenyataannya, bagaimana organisasi ini bergerak, apakah gerakan-gerakan yang dilakukan menyentuh pada substansi perjuangan ini yang kemudian harus menjadi pembahasan, masyarakat madani akan hanya menjadi wacana di dalam gedung-gedung mewah, bukan lagi menjadi tujuan perjuangan.


Idealnya sebuah organisasi adalah jika organisasi tersebut berada di dalam ranah perjuangannya sesuai dengan nilai-nilai yang tertanam. Di dalam HMI, kita mengenal lima kualitas insan cita, HMI adalah organisasi yang memang di bentuk untuk ikut serta membangun masyarakat Indonesia, sesuai tujuan HMI pada pasal 4 bahwa HMI bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Hal ini jelas, dengan landasan islam sebagai agama yang rakhmatinlil’alamin, tidak ada sebuah perbedaan dalam rangka untuk membangun. Pluralitas yang di angkat menjadi riill, jika perbedaan tidak menjadi tembok besar yang membedakan.

Oleh : Rama Aulia – Direktur Umum LAPMI HMI Cabang Surakarta 2011-2012

Surakarta, 19 Januari 2012