Home Blog Page 2

Misteri Garis Tangan

0

Berikut percakapan antara wartawan Nova dan Ibu Mita, seorang Grapholog lulusan dari Authentic School

Seperti apa pekerjaan “graphologist & behaviour assesor”? Grafologi adalah ilmu membaca (menganalisis) tulisan dan coretan tangan. Pekerjaan saya sebagai grafologis adalah menganalisis kepribadian atau masalah yang dialami seseorang dari coretan tangannya, baik tulisan maupun gambar. Sedangkan sebagai behaviour assesor, saya akan menilai seseorang berdasarkan tiga faktor, yaitu potensi dasar seseorang yang terlihat dari tulisan tangan, bagaimana potensi itu dikeluarkan, dan bagaimana reaksi orang itu ketika berada di bawah tekanan. Dari reaksi inilah, akan terlihat jenis pekerjaan apa yang cocok baginya. Sebetulnya saya lebih suka menyebut diri saya sebagai personal consultant, karena fokus saya dalam menjalani profesi ini adalah communication behaviour. Sebab, umumnya masalah terjadi karena persoalan perilaku komunikasi yang salah, terutama dalam hubungan antar anggota keluarga. 

Mengapa analisisnya lewat tulisan tangan? Karena proses kerja dan hasilnya lebih cepat diketahui. Bentuk tulisan tangan sebetulnya merupakan hasil print-out dari pola, cara atau format berpikir seseorang di alam bawah sadarnya. Sehingga banyak hal bisa diungkap dari situ. Tingkat keakuratan analisisnya, menurut sebagian grafologis, mencapai 90 persen. Namun, menurut saya, 70 – 80 persen saja sudah sangat bagus.

Apa manfaatnya ? Bermanfaat bagi anak yang kesulitan belajar, calon mahasiswa yang ingin mengambil jurusan, karyawan yang ingin mengenali potensinya, dan sebagainya. Terapinya disebut graphoteraphy, untuk membantu mengubah format atau cara berpikir seseorang di alam bawah sadarnya, dengan mengubah bentuk huruf tertentu yang biasa ia tulis. Graphotherapy sangat efektif untuk anak-anak sampai usia 13 tahun. Lebih dini memang lebih baik, sehingga ketika terjadi suatu masalah, bisa cepat ditangani.

Gambar juga bisa dianalisis? Iya, setiap gambar atau doodle menunjukkan sesuatu yang sedang dipikirkan pembuatnya. Itu sebabnya, dari gambar yang dibuat manusia di gua-gua ratusan tahun lalu bisa diketahui pembuatnya lelaki atau perempuan, sedang hamil atau tidak, bagaimana suasana hatinya ketika menggambar, dan sebagainya. Namun, gambar ini hanya pelengkap analisis bila saya perlukan. Yang utama adalah tulisan tangan.

Grafologi bisa membantu polisi mengungkap tindak kriminal ? Bisa. Di Amerika, Kanada dan Australia, grafologi dipakai oleh bagian forensik dan hasilnya diakui pengadilan setempat. Biasanya, saya diminta sebuah perusahaan yang sedang kehilangan barang berharga untuk menemukan pencurinya atau menemukan pegawai yang korupsi. Saya juga banyak diminta perusahaan untuk ikut mengasesmen pegawai. Kalau pihak HRD menilai dari sisi hardware alias skill-nya, saya menilai dari sisi software-nya, misalnya kejujuran, dan etika kerjanya.

Bagaimana dalam berhubungan dengan klien? Pertama, saya akan meminta tulisan tangan klien, boleh tentang apa saja dan disertai tanda tangannya, di kertas HVS tanpa garis, minimal 10 baris tulisan. Minimal 10 baris karena dianggap cukup mewakili kekonsistenan bentuk tulisan. Kertasnya harus tanpa garis agar base line tulisan itu terlihat. Dalam grafologi, base line akan menunjukkan banyak hal, antara lain mood dan optimisme seseorang.Hasil tulisan ini bisa dikirimkan lewat pos atau kurir, tapi tidak boleh lewat surel atau faks. Harus asli, biar saya tahu tekanan tulisan itu. Hasil analisisnya saya berikan dengan detail secara tertulis, sekaligus merekomendasikan untuk terapi yang harus dilakukan. Baru setelah itu saya dan klien bertemu.

Proses terapinya? Graphotherapy berlangsung selama 30 hari nonstop, setiap hari latihan selama 10 menit. Ini termasuk latihan mengganti huruf, biasanya ada 2 – 3 huruf yang perlu diganti. Ini untuk anak-anak. Kalau usia klien sudah lebih dewasa, biasanya dengan pendekatan perilaku komunikasi. Masa terapinya berbeda-beda, tergantung kebutuhan. Umumnya, minimal empat kali pertemuan. Biasanya, orangtua yang menginginkan anaknya diterapi. Si orang tua sendiri harus bersedia mengawasi selama anak diterapi

Siapa saja klien Anda ? Kebanyakan keluarga yang punya anak ABG. Selain itu, saya juga menangani klien perusahaan. Yang sekarang juga banyak jadi klien saya adalah lulusan S2 yang bingung mau bekerja apa. Setelah lulus S1 mereka langsung melanjutkan S2, ketika pulang ke Indonesia bingung karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang ada.
Kebanyakan klien saya dari Jakarta, tapi ada juga dari Bandung, Magelang, Pekanbaru, dan sebagainya. Saya juga diminta menangani anak-anak korban kekerasan di sebuah lembaga perlindungan anak. Tulisan mereka khas, lho. Ini bisa terlihat antara lain ketika menulis huruf yang punya lower zone, misalnya huruf g. Ketika mereka menulis huruf g, bagian bawahnya berbentuk segitiga.

Mengapa mereka bisa punya ciri khas seperti itu? Karena mereka punya cara berpikir yang sama. Orang-orang yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya juga akan terlihat jelas cara berpikirnya lewat tulisan. Oh ya, kalau menangani klien anak-anak dalam keluarga, saya juga minta tulisan orangtuanya, terutama ibunya, juga ikut dianalisis. Karena, perilaku orangtua juga ikut menentukan keberhasilan si anak. Bagaimana bisa membantu anaknya, kalau si ibu tidak mengenali jati diri dan potensinya sendiri? Memang, sebaiknya seluruh keluarga di analisis sehingga perilaku komunikasi keluarga bisa terjembatani sekaligus. Jadi, mereka punya “bahasa yang sama” dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Bisa diberi contoh kasus? Seorang anak SMP nilainya di sekolah tak pernah lebih dari angka enam. Padahal ia berasal dari keluarga besar yang pandai. Oleh orang tuanya, dia diikutkan banyak les mata pelajaran. Setelah saya cek, ternyata dia punya hubungan yang buruk dengan ibunya. Dari hasil tulisan tangannya terlihat si anak punya self critic yang tinggi. Jadi, tanpa harus diingatkan, dia akan memperbaiki dirinya sendiri.Namun, ibunya tipe orang yang terus-menerus menasihati. Jadi, tiap ibunya ada di dekatnya, dia akan pindah ke ruang lain, karena ibunya biasanya akan menasihati panjang lebar. Setelah diterapi, termasuk dihentikan separuh lesnya, prestasinya meningkat pesat. Dari pengalaman saya, kalau anak dan orang tua sama-sama berpartisipasi aktif dalam terapi, hasilnya sangat signifikan.

Omong-omong, mengapa tertarik mempelajari grafologi?Lulus dari Jurusan Sastra Prancis di Universitas Padjajaran Bandung, saya jadi staf marketing dan MC acara pernikahan. Tahun 2001, saya mengidap kanker payudara stadium 3B, yang menjalar ke getah bening. Dari situ saya berpikir mengapa bisa kena kanker. Dari buku yang saya baca, 20 persen penyebabnya pola makan, pola hidup dan keturunan. Sisanya, pola pikir.Saya berkesimpulan sedang ditegur Tuhan, karena punya potensi A tapi pekerjaannya B. Sebetulnya saya enggak suka, akhirnya stres. Saya lebih suka kerja di bidang yang hubungan personalnya cukup tinggi, seperti sekarang. Setelah menjalani pengobatan, tahun 2006 saya kursus grafologi di Authentic School of Graphologic Jakarta, dilanjutkan beberapa kursus lain untuk mendukungnya. Hasil kursus saya praktikkan pada ketiga anak saya, Tiara Pradyta (22), Adisti Paramita (16), dan Aditia Iqbal (14). Setelah itu, melayani permintaan teman. Dari promosi mulut ke mulut, klien terus bertambah.

Pernah dikira sebagai peramal? Pernah. Mungkin karena masih jarang orang berprofesi seperti ini, ya. Untungnya, sejauh ini justru para klien yang mendatangi saya, jadi mereka sudah tahu profesi saya.

Kalau sedang tidak melayani klien, apa kegiatan Anda?Banyak. Saya anggota di Rotary Club Bandung (klub yang anggotanya tersebar di seluruh dunia, bergerak di bidang sosial, Red.), anggota Sahabat Kota di Bandung (organisasi yang salah satu kegiatannya melakukan penghijauan), les vokal dan karaoke. Selain itu, jalan-jalan dengan anak-anak (Mita sudah bercerai dari suaminya). Saya juga mengajar grafologi untuk guru-guru SMA di Bandung, ibu rumahtangga, mahasiswa, staf HRD dan pimpinan perusahaan. Kalau kursus grafologi biasanya per kelompok, hanya satu hari. Saya suka pekerjaan seperti ini, tidak terikat waktu dan tempat. Saya biasanya meeting dengan klien di mal, kafe yang nyaman, atau di rumah. Kalau terikat waktu, saya enggak bisa jalan-jalan, dong.

Surakarta, 1 Agustus 2012

NILAI

0

“Aku butuh refreshing,” seloroh jutek kembali memenuhi telingaku.

“Lho… berarti kerja dan senang itu dipisahin? Emang ngga bisa, kalau dijadiin satu. Kerja itu yang senang, trus pas senang kita juga ngerasa sedang kerja.”

Dialog yang tak utuh. Butuh banyak waktu untuk membedah pemisahan antara pekerjaan dan kesenangan; duniawi dan ukhrawi; hakikat dan verbal. Aku tahu, ini pekerjaan sulit. Apalagi kalau bukan menjelaskan apa-apa dengan kaffah (menurutku). Sedangkan, aku juga tahu persis, bahwa aku juga butuh lisensi kaffah. Berarti, sama-sama ingin kaffah. Tapi, di sisi lain, aku juga harus berani berpersepsi. Semoga Allah mengampuniku andai khilaf.

Begini….

Berawal dari interest, manusia akan berupaya untuk mencari kepuasan hidup. Selain dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk survive, manusia cenderung ingin diakui keeksisannya. Selanjutnya, dua motif ini membentuk pola pikir dan tujuan manusia. Pada kenyataannya, semua carapun ditempuh.

Selanjutnya, dari ketundukan manusia pada tradisi, keyakinan temporal, hingga menuju kepercayaan hakiki, pada akhirnya manusia memiliki tipikal bermacam-macam. Mereka mengekspresikan semua itu dalam bentuk perilaku yang menurut mereka harus dipertahankan sebagai sebuah kebenaran.

Kaum materialis yakin bahwa semua hal harus ada manfaatnya, tidak mengindahkan dari mana datangnya. Artinya, apa pun karya atau produk yang ada, asalkan bisa mendatangkan manfaat, pasti dianggap sebagai kebenaran. Lebih-lebih, jikalau dibuktikan kasat mata, bisa dikira-kira, dan yang jelas menguntungkan. Mereka sangat menyukai kuantifikasi, kalkulasi, dan asas manfaat, sedangkan produk mereka adalah teknologi, sains, dan modernisasi. Tentu ini merupakan klaim sepihak.

Di pihak lain, kaum idealis mengagungkan pemahaman mereka tentang keseimbangan dunia, kebahagiaan, ide, keadilan, kenyamanan dalam bingkai kemanusiaan. Mereka selalu berbicara tentang idealitas, yakni bagaimana seharusnya sesuatu terjadi. Ada kalanya, kaum ini sangat mendamba dan meyakini sesuatu yang terang-terang tidak tampak. Mereka menganggapnya sebagai realitas nonmateri yang bisa dikriteriakan dalam persepsi tapi tidak dalam bentuk tiga dimensi yang dibatasi ruang, waktu, atau massa kebendaan. Kaum ini juga sangat bernafsu meyakinkan dunia tentang optimalnya cita-cita atas hal-hal material. Artinya, materi hanya sarana untuk mencapai cita-cita, bukan cita-cita itu sendiri.

Beriring kaum materialis dan idealis, terdapat juga koloni transenden. Barisan ini mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk ‘kegunaan’ dan ‘cita-cita’ abadi; Tuhan. Semua perilaku yang ada didasarkan pada literatur-literatur suci dan penghambaan terhadap kekuatan immaterial atas kepentingan material. Kaidah-kaidah yang ada pun dirunut kebenarannya bila mewakili perintah Tuhan. Apa pun selalu disandarkan pada ketentuan atas nama Tuhan.

Meski berbeda-beda, semua keyakinan tersebut pasti memiliki struktur. Pertama, bisa dipastikan bahwa ia memiliki tujuan hidup. Kedua, muncul ketentuan-ketentuan yang diyakini. Maksudnya, nilai-nilai yang dianggap sebagai rujukan. Ketiga, ada petunjuk aktivitas atau pola kerja. Ia biasa disebut syariat, hukum, atau ketentuan berbentuk mekanisme dan mekanisme. Keempat, variasi produk dan karya. Artinya, nilai memiliki bukti nyata yang dianggap sebagai representasi kebenarannya. Terakhir, ada logika kompensasi sebagai konsekuensi logis aksi. Di titik ini, semua keyakinan menawarkan banyak keuntungan baik langsung maupun tidak langsung; material maupun immaterial.

Dapat disimpulkan bahwa, terdapat semacam pranata sebagai keniscayaan pola aktivitas. Setiap berhak atas nilai yang ia tafsirkan sendiri, dengan ketentuan yang ia pahami. Kalau pun harus ikut atau turut pada tafsir nilai orang atau kelompok tertentu, harus dengan pemahaman yang cukup pula, bukan taklid, apalagi menganggap semua nilai itu telah selesai.

Dan bagiku… itu penting.

“Bener ngga, kalo selama ini, kamu ngga pernah bikin target sendiri? Target itu dibikin terus sama orang lain,” aku ingin segera menyelesaikan semua ini.

“He e…” angguknya pelan.

Yes!!! Aku berhasil.

Penulis: Arief Setiyanto

Surakarta, 21 November 2012

Milad HMI ke 65: Refleksi Gerakan Mahasiswa Islam

0

Bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 5 Februari tahun ini Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga merayakan hari jadinya yang ke 65. Berbicara tentang organisasi mahasiswa yang usianya hampir sama dengan usia republik ini pastilah akan sangat banyak tema baik pemikiran maupun tema gerakan yang bias diangkat. HMI yang lahir ditengah pergolakan bangsa pasca kemerdekaan pada tahun  1945 silam bertujuan awal sebagai wadah bagi mahasiswa Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia serta meninggikan derajat umat Islam yang saat itu masih dirundung kemiskinan serta kebodohan akibat penjajahan Belanda. Meski menghadapi berbagai tantangan baik dari eksternal umat Islam maupun intern umat Islam HMI yang semula hanya mempunyai satu kantor cabang di Yogyakarta sekarang telah menjadi organisasi mahasiswa yang terbesar dan tertua dengan lebih dari 100 Cabang dan puluhan ribu kader di seluruh Indonesia.

Dalam perjalanannya tujuan HMI berubah menjadi terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. HMI juga menyebutkan dalam Anggaran Dasar pasal 9 bahwa HMI berperan sebagai organisasi perjuangan. Perjuangannya sebagai organisasi mahasiswa adalah perjuangan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun demikian fakta yang saat ini ditemui belumlah seperti yang diharapkan dalam konstitusinya. Di usianya ke 65 HMI ada kegelisahan yang dituliskan oleh Agussalim Sitompul seorang sejarawan dalam bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI bahwa saat ini kader- kader HMI minim sekali gagasan segar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat serta umat. Dalam berbagai acara HMI masih sering mengenang kejayaan Nurcholis Madjid dkk di era tahun 70-an yang mengusung pemikiran Islam Indonesia Modern, dimana Cak Nur mendapatkan inspirasinya ketika dia dulu masih aktif di HMI. Setelah itu pada era 80-an HMI seolah tidak muncul di permukaan karena disibukkan dengan urusan internal organisasi yang tidak produktif.

Pasca reformasi keadaan tidak jauh berbeda, meski secara kuantitas anggota HMI bertambah namun secara kualitas kader HMI saat ini belum teruji secara nyata peranannya di kehidupan umat, berbangsa dan bernegara. HMI bisa dikatakan organisasi yang tidak menarik lagi untuk mahasiswa mengembangkan diri di kampus bahkan yang lebih ironis HMI hanya dianggap sebagai batu loncatan untuk karier politik  mahasiswa sebelum terjun ke dunia politik selanjutnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan perilaku alumni HMI yang terjerat kasus korupsi di berbagai daerah, meski tidak bisa memukul rata bahwa ini akibat berproses di HMI namun ini menjadikan HMI mempunyai “beban sejarah” yang harus diselesaikan dengan segera.

Di tengah kondisi carut marutnya negara yang seolah tanpa pemimpin sekarang dibutuhkan suatu perubahan yang menyeluruh dalam segala aspeknya. Meski pertumbuhan ekonomi yang diklaim pemerintah stabil namun masih tingginya angka kemiskinan, besarnya pengangguran serta maraknya korupsi bias menjadi refleksi mengapa agama Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia belum mampu berbuat banyak untuk mengatasinya. Liberalisasi di bidang ekonomi, politik dan budaya membuat seakan Negara tidak berdaya menghadapi perubahan yang begitu cepat. Begitu pula dengan HMI jika organisasi itu tidak tanggap terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya dan hanya mengandalkan nama besarnya maka akan mati dengan sendirinya.

Kondisi mahasiswa Islam yang tergerus oleh derasnya arus globalisasi seolah setali 3 uang dengan kondisi masyarakat yang sekarang cenderung apatis terhadap permasalahan bangsa dan umat. Gejala ini sangat berbahaya karena menyebabkan kaum intelektual tersebut tercerabut dari akar masyarakat serta agamanya. Ali Syariati dalam bukunya Ideologi Kaum Intelektual mengatakan bahwa tugas kaum intelektual Islam adalah melanjutkan misi islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam yang dimaksud bukan sebagai agama yang membuat candu bagi pemeluknya sebagaimana dikritik oleh Karl Marx ketika agama digunakan hanya untuk legitimasi mempertahankan struktur kekuasaan raja dan pemodal. Bukan pula Islam yang hanya menjadi formalitas belaka ketika dijadikan hukum dalam Peraturan Daerah tanpa mempertimbangkan aspek substansialnya, namun lebih besar dari itu Islam yang diperjuangkan adalah Islam yang berpihak pada kaum yang tertindas. Islam yang bersumber dari ajaran-ajaran dasar Islam tentang persaudaraan universal (Universal Brotherhood), kesetaraan (Equality), keadilan sosial (Social Justice),dan keadilan ekonomi (EconomicalJustice) sebagaimana tersebar dalam ayat-ayat Al-Quran. Keberagaman masyarakat yang sejak dulu ada di Masyarkat Indonesia dan sudah dibukanya keran demokrasi pasca reformasi menjadikan modal tambahan bagi terjadinya perubahan sosial yang berlandaskan Islam.

Berkaca pada revolusi di benua Arab dimana kaum intelektualnya berhasil mengorganisir masyarakat untuk memperjuangkan haknya, tidak mustahil juga dilakukan oleh kader-kader HMI dengan banyaknya kader yang dimiliki. Gerakan HMI dengan usianya yang tidak muda lagi sekarang juga musti diperluas tidak hanya berkutat di masalah pemikiran intelektual namun sudah saatnya kembali turun kemasyarakat dan umat dengan bekal yang dimilikinya. Kader-kader HMI tidak cukup menjadi intelektual di menara gading yang turun hanya ketika kondisi bangsa sudah sekarat namun juga harus menciptakan kesadaran yang tumbuh terus-menerus dari proses belajar langsung di masyarakat.  Proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar serta membutuhkan pengorbanan yang besar. Untuk itu dibutuhkan kesadaran yang penuh komitmen tentang keberpihakan yang jelas kepada kaum mustadafin dari setiap kader yang berproses di HMI. Kritik dan otokritik dalam pelaksanaan haruslah yang benar-benar bermanfaat bagi kemaslahatan tidak lagi perdebatan yang tidak produktif bagi kemajuan umat. Hal ini bisa menjadikan HMI dengan nilai-nilai ke-islaman, ke-mahasiswaan dan ke-Indonesianya menjadi motor gerakan sosial baru demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Dukungan dari semua pihak yang terkait di HMI seperti alumni bisa dilibatkan sepanjang tidak mempengaruhi independensi HMI baik secara etis dan organisatoris yang djunjung selama ini.

Usia 65 tahun bukanlah usia yang pendek untuk ukuran sebuah organisasi mahasiswa. Tanpa menafikkan proses sejarah HMI yang lalu serta pelaku gerakan dan pemikir yang saat ini masih aktif terserak di HMI, rumusan gerakan sosial baruyang berlandaskan Islam tanpa melupakan jati diri bangsa Indonesia perlulah direalisasikan sesegera mungkin di HMI. Agar HMI kembali menjadi organisasi mahasiswa Islam yang ideal dan kelak kader-kadernya menjadi pemimpin di segala sektor yang selalu memperjuangkan kepentingan umat. Sebagai penutup semoga HMI dapat benar- benar menjadi Harapan Masyarakat Indonesia sebagaimana pernah dikatakan Jendral Soedirman. Selamat milad ke 65 HMI.

Yakin Usaha Sampai

Oleh :

Aldian Andrew Wirawan

Ketua Bidang Pengembangan Anggota HMI Cabang Surakarta periode 2011-2012

Surakarta, 15 Februari 2015

Pelatihan Menulis “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas”

0

Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Surakarta, mengadakan Pelatihan Menulis dengan tema “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas”. Sabtu (17/12), Pelatihan tersebut dilaksanakan di Universitas Batik Surakarta (UNIBA), bertempat di jalan H. Agus Salim No.10 Surakarta pada pukul 13.00-16.00 WIB. Acara tersebut menghadirkan penulis yang berkompeten sebagai pembicara acaraya itu Eka Nada Shofa Alkhajar (Dosen Komunikasi Fakultas FISIP UNS ) dan Tanalyna Hasna (Penulis buku novel fiksi ).

          Pembicara pertama adalah Eka Nada Shofa Alkhajar, pria yang akrab di panggil Eka adalah salah seorang penulis yang konsisten di bidangnya. Melalui pengalaman Eka dalam menuliskan beberapa tulisan buku non fiksi dan artikel, Eka memberikan ilmu teknik menulis dan beberapa kiat menjadi seorang penulis yang produktif. Pesan motivasi yang disampaikan oleh Eka adalah menulis merupakan sebuah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang sepantasnya kita sebagai Manusia melakukanya dengan baik, dengan perbanyak membaca serta berdiskusi dapat membantu memberikan inspirasi dalam menulis.

          Pembicara kedua adalah Tanalyna Hasna, seorang wanita yang akrab di panggil Alin. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa ahli teknoogi pangan semester tujuh tersebut memberikan ilmu serta teknik penulisan karya fiksi dan beberapa cara menumbuhkan motivasi menulis. Selain itu, dia juga memberikan motivasi peserta untuk menulis dengan menceritakan beberapa pengalamanya selama menjadi penulis. Motivasi menulis cerita fiksi dapat dimunculkan pada tiap orang dengan menggemari media baca favorit. Buku fiksi berupa novel sastra dan novel populer (teenlit, metro pop dan chicklit) dapat menjadi sumber motivasi yang baik .Terdapat beberapa teknik menulis dalam penulisan karya fiksi dengan mencari ide, mengembangkan ide dengan kepekaan sosial, outline dengan menggunakan perhitungan format cerita, melakukan disiplin menulis dan membaca hasil tulisan secara berulang.

          Acara pelatihan menulis yang di ikuti oleh mahasiswa umum dan delegasi Lembaga Pers di lingkup kota solo tersebut, secara keseluruhan berjalan sangat dinamis, banyak respon pertanyaan dari peserta yang dilontarkan terkait dengan topic acara yang dibawakan kedua pembicara. Acara tersebut memberikan banyak manfaat dan ilmu dalam menulis. Terdapat beberapa hal pokok yang penting diterapkan, sebagai penulis yang konsisten dan berkualitas diperlukan sikap rajin, komitmen, tertib, fokus, dan percaya diri. Lebih memebudayakan membaca untuk lebih meningkatkan motivasi diri dan kualitas menulis, merupakan salah satu harapan dari acara Pelatihan Menulis yang bertemakan “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas” .

Surakarta, 20 Desember 2011

Penyerahan pamflet kepada pembicara Eka Nada Shofa Alkhajar oleh direktur umum LAPMI-HMI ” Rama Aulia Ekaputra”2011-2012 .
Penyerahan pamflet kepada tanalyna hasna sebagai pembicara oleh ketupat “warsito” 
Penyerahan hadiah kepada peserta active