Home Blog Page 2

Refleksi Milad HMI ke-72 “Bergegaslah Berubah dan Carilah Jalan Keluar demi Himpunan kita”

0

Pertama-tama mari mengulas sejarah HMI terlebih dahulu, sudah tahu kan sejarah itu apa? Sejarah adalah suatu kilas perjlanan manusia pada masa lampau yang biasanya di gunakan sebagai acuan atau cerminan diri untuk masa depan, ya intinya sebagai pengingat lah. HMI adalah kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Islam. Bahwasanya kita pasti sudah hafal siapa, kapan dan dimana HmI di dirikan, ya Himpunan ini di dirikan oleh Lafran Pane  pada tanggal 05 Februari 1947 yang bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H di kediaman kota Yogyakarta. Ingatkah apa tujuan awal di dirikannya HmI teman.? Tujuannya yaitu menjaga keutuhan NKRI, mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan menegakkan juga mengembangkan agama islam. Sampai sekarang tujuannya bukan seperti itu lagi kan? Ya tujuannya yaitu “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafkan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang di ridhoi Allah SWT. Saya suka sekali dengan bunyi tujuan HMI ini, entah kenapa? Tapi yang terpenting adalah tujuan itu berhasil di realisasikan.

Ciri khas yang di miliki HMI adalah bersifat Independen, yakni sebuah organisasi mahasiswa yang sejak dahulu berdiri sendiri tanpa adanya pihak maupun partai yang mengoalisikan. Sebuah organisasi paling tua diantara organisasi lainnya, sampai sekarang Alhamdulilah masih tetap eksis dan menyebar ke seluruh kota bahkan ada negara di Malaysia. Hal itu karena adanya unsur keindependensiannya sebagai organisasi kader.

Sekarang, saya akan menulis sedikit bagaimana keadaan Himpunan kami hingga sudah mencapai umur ke-72 tahun, semoga akan tetap kokoh walaupun sudah bertambah angka banyak. Mari kita pandang HmI zaman dahulu dan sekarang! Bayangkan saja deh. Dahulu nilai-nilai keislaman sangat kuat, ya namanya juga berasaskan Islam. Kalian tahu sendiri kenapa Islam? Ya karena Islam itu adalah sebuah agama yang di ridhoi Allah dan merupakan ajaran yang haq sempurna. Namun, zaman sekarang nilai-nilai keislaman sudah mulai memudar, ya bukan memudar lah tapi sedikit demi sedikit mulai mengikis luntur. Seperti halnya sekarang adalah sebuah kepentingan dan kekuasaan kebanyakan telah meracuni individual kader. Menginjak revolusi industri 4.O dan mulailah kita berjalan bebas dengan sendirinya mengikuti perkembangan zaman, politikpun bebas beredar dimana-mana. Keadaan kepengurusan dalam struktur organisasi seenaknya sendiri hingga menimbulkan kontroversi, hingga berlanjut kepanjangan. , waooo keras sekali kan. Rumiit sekali pokoknya, karena mereka mementingkan diri sendiri.

Bukan hanya persoalan keislaman saja menurut saya, ada seperti sebuah kecerdasan, keintelektualan seorang kader juga berbeda. Bagaimana ayo kita pertanyakan tingkat literasi kader HmI?mungkin susah ya, ya rendah dan ada yang tinggi, karena ini berdasarkan wilayah masing-masing bagaimana seniornya mengajarkan dan memberikan sebuah contoh kepada kader juniornya.

Ada lagi, mungkin mengenai keseriusan ber HmI teman, pada dasarnya ada sebuah keluhan bahwasanya mencari kader HmI adalah susah gimana begitu, karena yang dulunya menjadi organisasi internal berlanjut menjadi eksternal dan baru-baru ini ada keputusan akan di jadikan organisasi internal. Mungkin tidak masalah seperti itu, yang dipermasalahkan adalah pendidikan kader dan cara berpikir kader itu sendiri. Kader HmI di tuntut untuk berpikir kritis, krisis, cepat dan tanggap menghadapi sesuatu hal.

Saya mau tanya, apakah anggota kader yang kalian rekrut akan selalu stay di Himpunan kita ini? Ku pikir tidak, adakalanya mereka akan bosan dan ingin keluar pastinya.  Menyikapi hal tersebut maka perlu kesolidan antara pengurus dan anggota, pikirkan bersama solusi terbaik dan jangan hanya diam membiarkannya pergi, renungkanlah apa kesalahan diri kita pribadi. Ya itu juga bisa di jadikan sebuah refleksi keorganisasian kita.

Bisa saya simpulkan bahwasanya karena penyebaran Himpunan Mahasiswa Islam ini di berbagai wilayah jawa maupun luar jawa, ya tidak serta merta akan sama pola ber HmI nya. Maka dari itu, marilah kita menjadi angota himpunan yang bersinergi, bersatu dalam tubuh, jiwa dan pikiran yang sama untuk mencapai tujuan yang berkeliang di kepala kita demi mencapai sebuah peradaban yang memumpuni tanpa mengurangi sebuah nilai yang diajarkan dan dititipkan oleh bapak kita Lafran Pane.

Kita generasi muda, generasi emas dalam Himpunan Mahasiswa Islam, sadarlah dan bangkitlah!!!! Selamat milad himpunanku, himpunanmu yak pastinya adalah himpunan kita semua yang ke-72 ini, semoga semua problema bisa teratasi dan kembali berjalan normal kala masa engkau bapak Lafran Pane. Perjuangan yang rumit adalah sebuah ujian bagi diri kita, maka jangan pernah merasa terbebani dan putus asa terhadap aktivitas yang kita lakukan.

Bahagia HmI, Jayalah Kohati, YAKUSA!!! Yakin Usaha Sampai!!!

Oleh : Fajar Nur Annisa

Surakarta, 10 Februari 2019

Seven Deadly Sins dan Dosa Kebodohan

0

Dunia maya memang ibarat belantara asing. Luas, namun tanpa arah. Bulan ini, ramai diberitakan ihwal penangkapan administrator akun Twitter @TM2000 oleh Penyidik Subdit Cyber Crime, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. RN disinyalir melakukan tindakan pemerasan terhadap salah satu petinggi PT. Telkom, berinisial AS. RN juga diduga sebagai aktor interlektual di balik penyerangan akun twitter tersebut. Jamak kita ketahui, sebelum berganti nama menjadi @TM2000, akun ini bernama @TrioMacan2000. Akun yang mahsyur karena sering memberi kritik politik pedas pada para politikus Indonesia ini juga sempat membuat heboh lini massa ketika sempat memunculkan isu perselingkuhan Inggrid Kansil, istri mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarief Hasan dengan Ryan Syarif (CNN Indonesia, 2014).

Kasus diatas hanyalah satu dari ratusan atau lebih kasus yang menjamur di dunia maya baik di dalam maupun di luar kendali tim penyidik. Pekan ini, jagad dunia maya juga digemparkan oleh kasus MA yang menghina Presiden Jokowi lewat fitur gambar. Selain itu, kita telah kenyang dan kritis pada banyak akun juga situs-situs yang terkenal melakukan aksi propaganda ke masyarakat maya dengan menyebarkan fitnah atau kebencian.

Dunia dalam jejaring (daring) dipenuhi oleh manusia-manusia yang mengerti teknologi digital, namun sebagai manusia mereka tentu memiliki motif yang berbeda-beda. Dunia bayang-bayang ini tidak hanya berisi manusia berpengetahuan yang menyebarkan kebaikan, namun juga jenis manusia yang tidak bertanggung jawab. Motif bisnis, politik, sosial, budaya bahkan sekadar iseng-iseng berjalin-kelindan menjadi satu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang menunjukan kesetiaannya terhadap moralitas, namun dalam dunia digital ia adalah manusia ingkar. Sebaliknya, di alam nyata ia adalah sejenis manusia yang tidak patuh terhadap moralitas, namun di dunia maya ia memoles kepribadiannya tersebut melalui citra virtual.

Saya ingin menarasikan sebuah paradoks, atau mungkin layak juga disebut ironi. Begini. Setiap hari saya menulis berita. Berita saya mengandung 5W+1H layaknya hardnews, saya unggah di laman dotcom dan dibaca oleh minimal ribuan pembaca tiap harinya. Apakah saya seorang jurnalis? Bukan. Saya hanya seorang kepepet yang kadang butuh uang untuk makan dan membeli buku. Saya adalah kacung dari tuan dotcom (pemilik ratusan domain dotcom) yang dikelola untuk menjadi lahan subur bagi dollar.

Saya tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik. Dalam menghasilkan berita, jika kebetulan saya sedang senggang, maka berita akan saya sunting dan verifikasi berdasar teknik perbandingan sumber berita mayoritas. Tapi jika saya sedang sibuk “jika tidak layak menyebut malas” tak jarang saya hanya melakukan kerja copy-paste dari sumber mana suka untuk memenuhi tenggat pekerjaan. Berita produk copy-paste itu tersebar luas dan nyatanya mendapat minimal viewer mencapai angka puluhribu dalam hitungan jam. Viewer terkonversi menjadi Dollar. Dollar diperoleh Bos saya. Saya puas hanya dengan recehan.

Situs itu memakai nama dan design meyakinkan hingga tampil layaknya portal berita profesional. Siapa saja ‘jurnalis’ situs dotcom itu? Saya juga tidak tahu. Maaf, saya menjadi buruh ketika benar-benar kepepet. Bos saya tiap bulan bisa saja ganti-ganti. Seringnya, kami jarang kenal atau bertatap muka. Jika relasi dengan Bos saja begitu, apalagi antar buruhnya –yang saya tak tahu kualitas mereka; mungkin lebih baik atau lebih buruk dari saya. Pertanyaan akhirnya, kenapa saya mau melakukan pekerjaan semacam itu? Dalam hal ini, kembali saya menjawab ringan,”Apa anda yakin bahwa yang saya ceritakan itu memang benar saya pribadi atau saya hanya sekadar menarasikan?”. Itulah absurditas dunia dalam jejaring.

Kovach dan Rosenstiel dalam Sembilan Elemen Jurnalisme (2001) memaparkan sembilan unsur yang menjadi keabsahan laporan jurnalistik. Hal pertama dan utama yang selalu menjadi perdebatan adalah perihal kebenaran. Dalam setiap isu, masyarakat akan selalu bertanya : Kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? Bukankah tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat pemikiran punya dasar perihal kebenaran yang tidak sama identik sama satu dengan yang lain?

Kebenaran jurnalisme media menurut Kovach adalah apa yang disebut sebagai kebenaran fungsional, yakni tentang prosedur dan proses. Kebenaran dalam jurnalisme adalah terlaksananya teknik penggalian informasi serta disiplin verifikasi. Jamak dalam semua profesi, sebenarnya memberlakukan kebenaran sejenis. Polisi, hakim, guru, pemimpin perusahaan adalah para justifier kebenaran fungsional. Kebenaran dalam jurnalisme bukanlah kebenaran secara hakikat, filsafati, namun sebatas kebutuhan seseorang kepada informasi yang faktual dan aktual.

Problematikanya adalah, jika projournalism (jurnalisme profesional) bekerja berdasar sembilan iman jurnalistik Bill Kovach, yang masih sangat memperhatikan kebenaran fungsional, lalu dengan apa situs-situs dotcom tersebut bekerja? Seven Deadly Sins.

Lukas Luwarso dalam buku Pelanggaran Etika Pers (2007) menyebut ketujuh dosa besar itu adalah : Penyimpangan informasi, dramatisasi fakta, serangan privasi, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracuni pikiran anak dan penyalahgunaan kekuasaan. Sayangnya, tujuh dosa besar itulah yang memiliki lahan Dollar di Indonesia. Situs-situs dengan topik seks, hiburan dan kecantikan tercatat paling banyak diakses dalam negeri darurat karakter ini.

Seven Deadly Sins adalah iman para bos peternak dotcom (yang kadang tak malu menyebut diri melakukan kerja citizen journalism). Berdasarkan iman seven deadly sins, situs-situs itu dapat mengelola ratusan domain per hari hanya dengan memainkan kata kunci untuk menyusun artikel hingga jebakan-jebakan pada level judul. Mereka sangat paham budaya masyarakat yang gemar bergosip dan anehnya kehidupannya menjadi sangat dinamis berkat gosip. Mereka sangat paham bahwa hari ini banyak orang justru ingin menunjukkan bahwa saya tahu lebih dulu, saya tahu lebih cepat, dan saya tahu lebih banyak. Maka, berlomba-lombalah orang mengumpulkan berita, berkomentar, menyebarluaskan kejadian atau informasi lewat media digital yang tidak dikekang-kekang, tidak disunting-sunting, tidak dikontrol oleh pemilik media.

Hiperrealitas dunia maya membuat manusia menjadi asing dengan dirinya dan dunia sekitarnya. Yasraf Amir Pilliang (2011) menyebut hiperrealitas sebagai sebuah kondisi terhadap matinya realitas, yaitu diambilnya posisi realitas itu oleh apa yang sebelumnya disebut nonrealitas. Ia mewujudkan dirinya menjadi realitas artifisial yang bersifat faktual, lewat kemampuan sains dan teknologi seni dan citra. Ia adalah sebuah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas telah dilampaui dan diambil alih oleh substitusi yang tercipta secara artifisial lewat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya, banyak orang mati-matian membela antau menyebar fitnah dan caci maki pada Nabi-Nabi baru dalam dunia jejaring, dengan kerelaan, tanpa memperoleh sanjungan apalagi imbalan.

Selamat datang pada mazhab berita dimana orang merasa bebas untuk menyampaikan apa yang saya ingin sampaikan tanpa rasa was-was, tanpa rasa malu ataupun bersalah. Toh, kalau kemudian ternyata apa yang  diwartakan tak sesuai kenyataan, itu adalah hal gampang, tinggal koreksi dan buat saja berita baru. Untuk situs detikan, hal tersebut adalah lahan subur bagi Dollar.

Oleh : Kalis Mardi Asih; Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Surakarta

Surakarta, 14 November 2014

Masih Berperankah HMI untuk INDONESIA ?

0

Indonesia sudah tidak dikatakan muda lagi sebagai sebuah negara, sejak di proklamirkan pada tahun 1945 bulan Agustus, sekitar 64 tahun yang lalu. Sudah banyak perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Dari perekonomian yang mulai merangkak, sosial mengalami pembaharuan ke arah masyarakat modern dan informasi, serta perombakan kepemimpinan dan politik yang belum juga menemukakan jati diri.


Sejarah Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjuangan HMI, beberapa tokoh bangsa non-HMI juga membenarkan pernyataan tersebut. Hal ini tidak lepas dari lahirnya HMI yang selaras dengan jalan perjuangan bangsa mempertahankan kedaulatan NKRI. Sebut saja setelah beberapa saat penjajah kembali dan beberapa pemberontakan yang terjadi di dalam negeri. HMI sedikit besar berperan memperjuangkan tegaknya NKRI. Dalam peristiwa ini, yang peling mencolok adalah pada saat DN AIDIT, ketua PKI saat itu setelah Tan Malaka, mengingkan untuk membubarkan HMI sebagai organisasi Islam. “pakai sarung saja jika tidak bisa membubarkan HMI” teriak DN AIDIT. Namun apa kenyataannya, HMI masih berdiri kokoh hingga sampai saat ini.

Sejarah memberikan kita cermin, bagaimana kita bersikap dalam segala situasi, memberikan kita referensi untuk bertindak di tengah dinamika yang terjadi, yang terus berubah dan berkembang. Namun sejarah tidak lantas menjadi piala yang harus menjadi bantal untuk berimpi, dan terus menikmati dalam romantisme stagnasi. Justru dari sejarahlah seharusnya kita dapat belajar, bagaimana kita saat ini berperan.

Keadaan sekarang, diamnya anak merdekaan secara legalitas dan pengakuan atas kedaulatan sudah terbentuk, apakah HMI masih mempunyai peran yang berarti untuk membangun. Mungkin ini masalah yang masih menjadi janggalan, yang kemudian solusinya menjadi dasar arah gerak bagi organisasi tertua di Indonesia ini. Lalu pada kenyataannya, bagaimana organisasi ini bergerak, apakah gerakan-gerakan yang dilakukan menyentuh pada substansi perjuangan ini yang kemudian harus menjadi pembahasan, masyarakat madani akan hanya menjadi wacana di dalam gedung-gedung mewah, bukan lagi menjadi tujuan perjuangan.


Idealnya sebuah organisasi adalah jika organisasi tersebut berada di dalam ranah perjuangannya sesuai dengan nilai-nilai yang tertanam. Di dalam HMI, kita mengenal lima kualitas insan cita, HMI adalah organisasi yang memang di bentuk untuk ikut serta membangun masyarakat Indonesia, sesuai tujuan HMI pada pasal 4 bahwa HMI bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Hal ini jelas, dengan landasan islam sebagai agama yang rakhmatinlil’alamin, tidak ada sebuah perbedaan dalam rangka untuk membangun. Pluralitas yang di angkat menjadi riill, jika perbedaan tidak menjadi tembok besar yang membedakan.

Oleh : Rama Aulia – Direktur Umum LAPMI HMI Cabang Surakarta 2011-2012

Surakarta, 19 Januari 2012

Misteri Garis Tangan

0

Berikut percakapan antara wartawan Nova dan Ibu Mita, seorang Grapholog lulusan dari Authentic School

Seperti apa pekerjaan “graphologist & behaviour assesor”? Grafologi adalah ilmu membaca (menganalisis) tulisan dan coretan tangan. Pekerjaan saya sebagai grafologis adalah menganalisis kepribadian atau masalah yang dialami seseorang dari coretan tangannya, baik tulisan maupun gambar. Sedangkan sebagai behaviour assesor, saya akan menilai seseorang berdasarkan tiga faktor, yaitu potensi dasar seseorang yang terlihat dari tulisan tangan, bagaimana potensi itu dikeluarkan, dan bagaimana reaksi orang itu ketika berada di bawah tekanan. Dari reaksi inilah, akan terlihat jenis pekerjaan apa yang cocok baginya. Sebetulnya saya lebih suka menyebut diri saya sebagai personal consultant, karena fokus saya dalam menjalani profesi ini adalah communication behaviour. Sebab, umumnya masalah terjadi karena persoalan perilaku komunikasi yang salah, terutama dalam hubungan antar anggota keluarga. 

Mengapa analisisnya lewat tulisan tangan? Karena proses kerja dan hasilnya lebih cepat diketahui. Bentuk tulisan tangan sebetulnya merupakan hasil print-out dari pola, cara atau format berpikir seseorang di alam bawah sadarnya. Sehingga banyak hal bisa diungkap dari situ. Tingkat keakuratan analisisnya, menurut sebagian grafologis, mencapai 90 persen. Namun, menurut saya, 70 – 80 persen saja sudah sangat bagus.

Apa manfaatnya ? Bermanfaat bagi anak yang kesulitan belajar, calon mahasiswa yang ingin mengambil jurusan, karyawan yang ingin mengenali potensinya, dan sebagainya. Terapinya disebut graphoteraphy, untuk membantu mengubah format atau cara berpikir seseorang di alam bawah sadarnya, dengan mengubah bentuk huruf tertentu yang biasa ia tulis. Graphotherapy sangat efektif untuk anak-anak sampai usia 13 tahun. Lebih dini memang lebih baik, sehingga ketika terjadi suatu masalah, bisa cepat ditangani.

Gambar juga bisa dianalisis? Iya, setiap gambar atau doodle menunjukkan sesuatu yang sedang dipikirkan pembuatnya. Itu sebabnya, dari gambar yang dibuat manusia di gua-gua ratusan tahun lalu bisa diketahui pembuatnya lelaki atau perempuan, sedang hamil atau tidak, bagaimana suasana hatinya ketika menggambar, dan sebagainya. Namun, gambar ini hanya pelengkap analisis bila saya perlukan. Yang utama adalah tulisan tangan.

Grafologi bisa membantu polisi mengungkap tindak kriminal ? Bisa. Di Amerika, Kanada dan Australia, grafologi dipakai oleh bagian forensik dan hasilnya diakui pengadilan setempat. Biasanya, saya diminta sebuah perusahaan yang sedang kehilangan barang berharga untuk menemukan pencurinya atau menemukan pegawai yang korupsi. Saya juga banyak diminta perusahaan untuk ikut mengasesmen pegawai. Kalau pihak HRD menilai dari sisi hardware alias skill-nya, saya menilai dari sisi software-nya, misalnya kejujuran, dan etika kerjanya.

Bagaimana dalam berhubungan dengan klien? Pertama, saya akan meminta tulisan tangan klien, boleh tentang apa saja dan disertai tanda tangannya, di kertas HVS tanpa garis, minimal 10 baris tulisan. Minimal 10 baris karena dianggap cukup mewakili kekonsistenan bentuk tulisan. Kertasnya harus tanpa garis agar base line tulisan itu terlihat. Dalam grafologi, base line akan menunjukkan banyak hal, antara lain mood dan optimisme seseorang.Hasil tulisan ini bisa dikirimkan lewat pos atau kurir, tapi tidak boleh lewat surel atau faks. Harus asli, biar saya tahu tekanan tulisan itu. Hasil analisisnya saya berikan dengan detail secara tertulis, sekaligus merekomendasikan untuk terapi yang harus dilakukan. Baru setelah itu saya dan klien bertemu.

Proses terapinya? Graphotherapy berlangsung selama 30 hari nonstop, setiap hari latihan selama 10 menit. Ini termasuk latihan mengganti huruf, biasanya ada 2 – 3 huruf yang perlu diganti. Ini untuk anak-anak. Kalau usia klien sudah lebih dewasa, biasanya dengan pendekatan perilaku komunikasi. Masa terapinya berbeda-beda, tergantung kebutuhan. Umumnya, minimal empat kali pertemuan. Biasanya, orangtua yang menginginkan anaknya diterapi. Si orang tua sendiri harus bersedia mengawasi selama anak diterapi

Siapa saja klien Anda ? Kebanyakan keluarga yang punya anak ABG. Selain itu, saya juga menangani klien perusahaan. Yang sekarang juga banyak jadi klien saya adalah lulusan S2 yang bingung mau bekerja apa. Setelah lulus S1 mereka langsung melanjutkan S2, ketika pulang ke Indonesia bingung karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang ada.
Kebanyakan klien saya dari Jakarta, tapi ada juga dari Bandung, Magelang, Pekanbaru, dan sebagainya. Saya juga diminta menangani anak-anak korban kekerasan di sebuah lembaga perlindungan anak. Tulisan mereka khas, lho. Ini bisa terlihat antara lain ketika menulis huruf yang punya lower zone, misalnya huruf g. Ketika mereka menulis huruf g, bagian bawahnya berbentuk segitiga.

Mengapa mereka bisa punya ciri khas seperti itu? Karena mereka punya cara berpikir yang sama. Orang-orang yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya juga akan terlihat jelas cara berpikirnya lewat tulisan. Oh ya, kalau menangani klien anak-anak dalam keluarga, saya juga minta tulisan orangtuanya, terutama ibunya, juga ikut dianalisis. Karena, perilaku orangtua juga ikut menentukan keberhasilan si anak. Bagaimana bisa membantu anaknya, kalau si ibu tidak mengenali jati diri dan potensinya sendiri? Memang, sebaiknya seluruh keluarga di analisis sehingga perilaku komunikasi keluarga bisa terjembatani sekaligus. Jadi, mereka punya “bahasa yang sama” dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Bisa diberi contoh kasus? Seorang anak SMP nilainya di sekolah tak pernah lebih dari angka enam. Padahal ia berasal dari keluarga besar yang pandai. Oleh orang tuanya, dia diikutkan banyak les mata pelajaran. Setelah saya cek, ternyata dia punya hubungan yang buruk dengan ibunya. Dari hasil tulisan tangannya terlihat si anak punya self critic yang tinggi. Jadi, tanpa harus diingatkan, dia akan memperbaiki dirinya sendiri.Namun, ibunya tipe orang yang terus-menerus menasihati. Jadi, tiap ibunya ada di dekatnya, dia akan pindah ke ruang lain, karena ibunya biasanya akan menasihati panjang lebar. Setelah diterapi, termasuk dihentikan separuh lesnya, prestasinya meningkat pesat. Dari pengalaman saya, kalau anak dan orang tua sama-sama berpartisipasi aktif dalam terapi, hasilnya sangat signifikan.

Omong-omong, mengapa tertarik mempelajari grafologi?Lulus dari Jurusan Sastra Prancis di Universitas Padjajaran Bandung, saya jadi staf marketing dan MC acara pernikahan. Tahun 2001, saya mengidap kanker payudara stadium 3B, yang menjalar ke getah bening. Dari situ saya berpikir mengapa bisa kena kanker. Dari buku yang saya baca, 20 persen penyebabnya pola makan, pola hidup dan keturunan. Sisanya, pola pikir.Saya berkesimpulan sedang ditegur Tuhan, karena punya potensi A tapi pekerjaannya B. Sebetulnya saya enggak suka, akhirnya stres. Saya lebih suka kerja di bidang yang hubungan personalnya cukup tinggi, seperti sekarang. Setelah menjalani pengobatan, tahun 2006 saya kursus grafologi di Authentic School of Graphologic Jakarta, dilanjutkan beberapa kursus lain untuk mendukungnya. Hasil kursus saya praktikkan pada ketiga anak saya, Tiara Pradyta (22), Adisti Paramita (16), dan Aditia Iqbal (14). Setelah itu, melayani permintaan teman. Dari promosi mulut ke mulut, klien terus bertambah.

Pernah dikira sebagai peramal? Pernah. Mungkin karena masih jarang orang berprofesi seperti ini, ya. Untungnya, sejauh ini justru para klien yang mendatangi saya, jadi mereka sudah tahu profesi saya.

Kalau sedang tidak melayani klien, apa kegiatan Anda?Banyak. Saya anggota di Rotary Club Bandung (klub yang anggotanya tersebar di seluruh dunia, bergerak di bidang sosial, Red.), anggota Sahabat Kota di Bandung (organisasi yang salah satu kegiatannya melakukan penghijauan), les vokal dan karaoke. Selain itu, jalan-jalan dengan anak-anak (Mita sudah bercerai dari suaminya). Saya juga mengajar grafologi untuk guru-guru SMA di Bandung, ibu rumahtangga, mahasiswa, staf HRD dan pimpinan perusahaan. Kalau kursus grafologi biasanya per kelompok, hanya satu hari. Saya suka pekerjaan seperti ini, tidak terikat waktu dan tempat. Saya biasanya meeting dengan klien di mal, kafe yang nyaman, atau di rumah. Kalau terikat waktu, saya enggak bisa jalan-jalan, dong.

Surakarta, 1 Agustus 2012

NILAI

0

“Aku butuh refreshing,” seloroh jutek kembali memenuhi telingaku.

“Lho… berarti kerja dan senang itu dipisahin? Emang ngga bisa, kalau dijadiin satu. Kerja itu yang senang, trus pas senang kita juga ngerasa sedang kerja.”

Dialog yang tak utuh. Butuh banyak waktu untuk membedah pemisahan antara pekerjaan dan kesenangan; duniawi dan ukhrawi; hakikat dan verbal. Aku tahu, ini pekerjaan sulit. Apalagi kalau bukan menjelaskan apa-apa dengan kaffah (menurutku). Sedangkan, aku juga tahu persis, bahwa aku juga butuh lisensi kaffah. Berarti, sama-sama ingin kaffah. Tapi, di sisi lain, aku juga harus berani berpersepsi. Semoga Allah mengampuniku andai khilaf.

Begini….

Berawal dari interest, manusia akan berupaya untuk mencari kepuasan hidup. Selain dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk survive, manusia cenderung ingin diakui keeksisannya. Selanjutnya, dua motif ini membentuk pola pikir dan tujuan manusia. Pada kenyataannya, semua carapun ditempuh.

Selanjutnya, dari ketundukan manusia pada tradisi, keyakinan temporal, hingga menuju kepercayaan hakiki, pada akhirnya manusia memiliki tipikal bermacam-macam. Mereka mengekspresikan semua itu dalam bentuk perilaku yang menurut mereka harus dipertahankan sebagai sebuah kebenaran.

Kaum materialis yakin bahwa semua hal harus ada manfaatnya, tidak mengindahkan dari mana datangnya. Artinya, apa pun karya atau produk yang ada, asalkan bisa mendatangkan manfaat, pasti dianggap sebagai kebenaran. Lebih-lebih, jikalau dibuktikan kasat mata, bisa dikira-kira, dan yang jelas menguntungkan. Mereka sangat menyukai kuantifikasi, kalkulasi, dan asas manfaat, sedangkan produk mereka adalah teknologi, sains, dan modernisasi. Tentu ini merupakan klaim sepihak.

Di pihak lain, kaum idealis mengagungkan pemahaman mereka tentang keseimbangan dunia, kebahagiaan, ide, keadilan, kenyamanan dalam bingkai kemanusiaan. Mereka selalu berbicara tentang idealitas, yakni bagaimana seharusnya sesuatu terjadi. Ada kalanya, kaum ini sangat mendamba dan meyakini sesuatu yang terang-terang tidak tampak. Mereka menganggapnya sebagai realitas nonmateri yang bisa dikriteriakan dalam persepsi tapi tidak dalam bentuk tiga dimensi yang dibatasi ruang, waktu, atau massa kebendaan. Kaum ini juga sangat bernafsu meyakinkan dunia tentang optimalnya cita-cita atas hal-hal material. Artinya, materi hanya sarana untuk mencapai cita-cita, bukan cita-cita itu sendiri.

Beriring kaum materialis dan idealis, terdapat juga koloni transenden. Barisan ini mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk ‘kegunaan’ dan ‘cita-cita’ abadi; Tuhan. Semua perilaku yang ada didasarkan pada literatur-literatur suci dan penghambaan terhadap kekuatan immaterial atas kepentingan material. Kaidah-kaidah yang ada pun dirunut kebenarannya bila mewakili perintah Tuhan. Apa pun selalu disandarkan pada ketentuan atas nama Tuhan.

Meski berbeda-beda, semua keyakinan tersebut pasti memiliki struktur. Pertama, bisa dipastikan bahwa ia memiliki tujuan hidup. Kedua, muncul ketentuan-ketentuan yang diyakini. Maksudnya, nilai-nilai yang dianggap sebagai rujukan. Ketiga, ada petunjuk aktivitas atau pola kerja. Ia biasa disebut syariat, hukum, atau ketentuan berbentuk mekanisme dan mekanisme. Keempat, variasi produk dan karya. Artinya, nilai memiliki bukti nyata yang dianggap sebagai representasi kebenarannya. Terakhir, ada logika kompensasi sebagai konsekuensi logis aksi. Di titik ini, semua keyakinan menawarkan banyak keuntungan baik langsung maupun tidak langsung; material maupun immaterial.

Dapat disimpulkan bahwa, terdapat semacam pranata sebagai keniscayaan pola aktivitas. Setiap berhak atas nilai yang ia tafsirkan sendiri, dengan ketentuan yang ia pahami. Kalau pun harus ikut atau turut pada tafsir nilai orang atau kelompok tertentu, harus dengan pemahaman yang cukup pula, bukan taklid, apalagi menganggap semua nilai itu telah selesai.

Dan bagiku… itu penting.

“Bener ngga, kalo selama ini, kamu ngga pernah bikin target sendiri? Target itu dibikin terus sama orang lain,” aku ingin segera menyelesaikan semua ini.

“He e…” angguknya pelan.

Yes!!! Aku berhasil.

Penulis: Arief Setiyanto

Surakarta, 21 November 2012

Milad HMI ke 65: Refleksi Gerakan Mahasiswa Islam

0

Bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 5 Februari tahun ini Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga merayakan hari jadinya yang ke 65. Berbicara tentang organisasi mahasiswa yang usianya hampir sama dengan usia republik ini pastilah akan sangat banyak tema baik pemikiran maupun tema gerakan yang bias diangkat. HMI yang lahir ditengah pergolakan bangsa pasca kemerdekaan pada tahun  1945 silam bertujuan awal sebagai wadah bagi mahasiswa Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia serta meninggikan derajat umat Islam yang saat itu masih dirundung kemiskinan serta kebodohan akibat penjajahan Belanda. Meski menghadapi berbagai tantangan baik dari eksternal umat Islam maupun intern umat Islam HMI yang semula hanya mempunyai satu kantor cabang di Yogyakarta sekarang telah menjadi organisasi mahasiswa yang terbesar dan tertua dengan lebih dari 100 Cabang dan puluhan ribu kader di seluruh Indonesia.

Dalam perjalanannya tujuan HMI berubah menjadi terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. HMI juga menyebutkan dalam Anggaran Dasar pasal 9 bahwa HMI berperan sebagai organisasi perjuangan. Perjuangannya sebagai organisasi mahasiswa adalah perjuangan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun demikian fakta yang saat ini ditemui belumlah seperti yang diharapkan dalam konstitusinya. Di usianya ke 65 HMI ada kegelisahan yang dituliskan oleh Agussalim Sitompul seorang sejarawan dalam bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI bahwa saat ini kader- kader HMI minim sekali gagasan segar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat serta umat. Dalam berbagai acara HMI masih sering mengenang kejayaan Nurcholis Madjid dkk di era tahun 70-an yang mengusung pemikiran Islam Indonesia Modern, dimana Cak Nur mendapatkan inspirasinya ketika dia dulu masih aktif di HMI. Setelah itu pada era 80-an HMI seolah tidak muncul di permukaan karena disibukkan dengan urusan internal organisasi yang tidak produktif.

Pasca reformasi keadaan tidak jauh berbeda, meski secara kuantitas anggota HMI bertambah namun secara kualitas kader HMI saat ini belum teruji secara nyata peranannya di kehidupan umat, berbangsa dan bernegara. HMI bisa dikatakan organisasi yang tidak menarik lagi untuk mahasiswa mengembangkan diri di kampus bahkan yang lebih ironis HMI hanya dianggap sebagai batu loncatan untuk karier politik  mahasiswa sebelum terjun ke dunia politik selanjutnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan perilaku alumni HMI yang terjerat kasus korupsi di berbagai daerah, meski tidak bisa memukul rata bahwa ini akibat berproses di HMI namun ini menjadikan HMI mempunyai “beban sejarah” yang harus diselesaikan dengan segera.

Di tengah kondisi carut marutnya negara yang seolah tanpa pemimpin sekarang dibutuhkan suatu perubahan yang menyeluruh dalam segala aspeknya. Meski pertumbuhan ekonomi yang diklaim pemerintah stabil namun masih tingginya angka kemiskinan, besarnya pengangguran serta maraknya korupsi bias menjadi refleksi mengapa agama Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia belum mampu berbuat banyak untuk mengatasinya. Liberalisasi di bidang ekonomi, politik dan budaya membuat seakan Negara tidak berdaya menghadapi perubahan yang begitu cepat. Begitu pula dengan HMI jika organisasi itu tidak tanggap terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya dan hanya mengandalkan nama besarnya maka akan mati dengan sendirinya.

Kondisi mahasiswa Islam yang tergerus oleh derasnya arus globalisasi seolah setali 3 uang dengan kondisi masyarakat yang sekarang cenderung apatis terhadap permasalahan bangsa dan umat. Gejala ini sangat berbahaya karena menyebabkan kaum intelektual tersebut tercerabut dari akar masyarakat serta agamanya. Ali Syariati dalam bukunya Ideologi Kaum Intelektual mengatakan bahwa tugas kaum intelektual Islam adalah melanjutkan misi islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam yang dimaksud bukan sebagai agama yang membuat candu bagi pemeluknya sebagaimana dikritik oleh Karl Marx ketika agama digunakan hanya untuk legitimasi mempertahankan struktur kekuasaan raja dan pemodal. Bukan pula Islam yang hanya menjadi formalitas belaka ketika dijadikan hukum dalam Peraturan Daerah tanpa mempertimbangkan aspek substansialnya, namun lebih besar dari itu Islam yang diperjuangkan adalah Islam yang berpihak pada kaum yang tertindas. Islam yang bersumber dari ajaran-ajaran dasar Islam tentang persaudaraan universal (Universal Brotherhood), kesetaraan (Equality), keadilan sosial (Social Justice),dan keadilan ekonomi (EconomicalJustice) sebagaimana tersebar dalam ayat-ayat Al-Quran. Keberagaman masyarakat yang sejak dulu ada di Masyarkat Indonesia dan sudah dibukanya keran demokrasi pasca reformasi menjadikan modal tambahan bagi terjadinya perubahan sosial yang berlandaskan Islam.

Berkaca pada revolusi di benua Arab dimana kaum intelektualnya berhasil mengorganisir masyarakat untuk memperjuangkan haknya, tidak mustahil juga dilakukan oleh kader-kader HMI dengan banyaknya kader yang dimiliki. Gerakan HMI dengan usianya yang tidak muda lagi sekarang juga musti diperluas tidak hanya berkutat di masalah pemikiran intelektual namun sudah saatnya kembali turun kemasyarakat dan umat dengan bekal yang dimilikinya. Kader-kader HMI tidak cukup menjadi intelektual di menara gading yang turun hanya ketika kondisi bangsa sudah sekarat namun juga harus menciptakan kesadaran yang tumbuh terus-menerus dari proses belajar langsung di masyarakat.  Proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar serta membutuhkan pengorbanan yang besar. Untuk itu dibutuhkan kesadaran yang penuh komitmen tentang keberpihakan yang jelas kepada kaum mustadafin dari setiap kader yang berproses di HMI. Kritik dan otokritik dalam pelaksanaan haruslah yang benar-benar bermanfaat bagi kemaslahatan tidak lagi perdebatan yang tidak produktif bagi kemajuan umat. Hal ini bisa menjadikan HMI dengan nilai-nilai ke-islaman, ke-mahasiswaan dan ke-Indonesianya menjadi motor gerakan sosial baru demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Dukungan dari semua pihak yang terkait di HMI seperti alumni bisa dilibatkan sepanjang tidak mempengaruhi independensi HMI baik secara etis dan organisatoris yang djunjung selama ini.

Usia 65 tahun bukanlah usia yang pendek untuk ukuran sebuah organisasi mahasiswa. Tanpa menafikkan proses sejarah HMI yang lalu serta pelaku gerakan dan pemikir yang saat ini masih aktif terserak di HMI, rumusan gerakan sosial baruyang berlandaskan Islam tanpa melupakan jati diri bangsa Indonesia perlulah direalisasikan sesegera mungkin di HMI. Agar HMI kembali menjadi organisasi mahasiswa Islam yang ideal dan kelak kader-kadernya menjadi pemimpin di segala sektor yang selalu memperjuangkan kepentingan umat. Sebagai penutup semoga HMI dapat benar- benar menjadi Harapan Masyarakat Indonesia sebagaimana pernah dikatakan Jendral Soedirman. Selamat milad ke 65 HMI.

Yakin Usaha Sampai

Oleh :

Aldian Andrew Wirawan

Ketua Bidang Pengembangan Anggota HMI Cabang Surakarta periode 2011-2012

Surakarta, 15 Februari 2015

Pelatihan Menulis “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas”

0

Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Surakarta, mengadakan Pelatihan Menulis dengan tema “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas”. Sabtu (17/12), Pelatihan tersebut dilaksanakan di Universitas Batik Surakarta (UNIBA), bertempat di jalan H. Agus Salim No.10 Surakarta pada pukul 13.00-16.00 WIB. Acara tersebut menghadirkan penulis yang berkompeten sebagai pembicara acaraya itu Eka Nada Shofa Alkhajar (Dosen Komunikasi Fakultas FISIP UNS ) dan Tanalyna Hasna (Penulis buku novel fiksi ).

          Pembicara pertama adalah Eka Nada Shofa Alkhajar, pria yang akrab di panggil Eka adalah salah seorang penulis yang konsisten di bidangnya. Melalui pengalaman Eka dalam menuliskan beberapa tulisan buku non fiksi dan artikel, Eka memberikan ilmu teknik menulis dan beberapa kiat menjadi seorang penulis yang produktif. Pesan motivasi yang disampaikan oleh Eka adalah menulis merupakan sebuah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang sepantasnya kita sebagai Manusia melakukanya dengan baik, dengan perbanyak membaca serta berdiskusi dapat membantu memberikan inspirasi dalam menulis.

          Pembicara kedua adalah Tanalyna Hasna, seorang wanita yang akrab di panggil Alin. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa ahli teknoogi pangan semester tujuh tersebut memberikan ilmu serta teknik penulisan karya fiksi dan beberapa cara menumbuhkan motivasi menulis. Selain itu, dia juga memberikan motivasi peserta untuk menulis dengan menceritakan beberapa pengalamanya selama menjadi penulis. Motivasi menulis cerita fiksi dapat dimunculkan pada tiap orang dengan menggemari media baca favorit. Buku fiksi berupa novel sastra dan novel populer (teenlit, metro pop dan chicklit) dapat menjadi sumber motivasi yang baik .Terdapat beberapa teknik menulis dalam penulisan karya fiksi dengan mencari ide, mengembangkan ide dengan kepekaan sosial, outline dengan menggunakan perhitungan format cerita, melakukan disiplin menulis dan membaca hasil tulisan secara berulang.

          Acara pelatihan menulis yang di ikuti oleh mahasiswa umum dan delegasi Lembaga Pers di lingkup kota solo tersebut, secara keseluruhan berjalan sangat dinamis, banyak respon pertanyaan dari peserta yang dilontarkan terkait dengan topic acara yang dibawakan kedua pembicara. Acara tersebut memberikan banyak manfaat dan ilmu dalam menulis. Terdapat beberapa hal pokok yang penting diterapkan, sebagai penulis yang konsisten dan berkualitas diperlukan sikap rajin, komitmen, tertib, fokus, dan percaya diri. Lebih memebudayakan membaca untuk lebih meningkatkan motivasi diri dan kualitas menulis, merupakan salah satu harapan dari acara Pelatihan Menulis yang bertemakan “Melahirkan Mahasiswa Bertinta Emas” .

Surakarta, 20 Desember 2011

Penyerahan pamflet kepada pembicara Eka Nada Shofa Alkhajar oleh direktur umum LAPMI-HMI ” Rama Aulia Ekaputra”2011-2012 .
Penyerahan pamflet kepada tanalyna hasna sebagai pembicara oleh ketupat “warsito” 
Penyerahan hadiah kepada peserta active