Home Uncategorized Sajak Masa Darurat

Sajak Masa Darurat

4
0
Ilustrator : Ilham Resiartha

Senjakala langit bermain warna, tiada dengar lagu klasik kendaraan seperti biasannya.

Di beranda rumah raga yang layu memandang kosong hamparan jalan yang biasannya ramai.

Pesta senjakala tak terlihat maupun tak terdengar kurang lebih  sudah sebulan ini.

Pesta yang selalu meriah karena alunan mesin kendaraan dan dansa pejalan kaki yang lalu lalang.

Kini begitu lengang dan tenang, namun tetap saja hati dan pikiran gelisah tidak teredam.

Secangkir kopi hitam dan sebatang rokok kretek lokal menjadi teman kencan senja kali ini.

Seruputan kopi dan hisapan rokok membuat imajinasi tak terbendung lagi.

Rosmeini…. Rosmeini… Rosmeini…

Inginku meminangmu, inginku mengawinimu, inginku tumpahkan cinta seutuhnya padamu.

Namun Rosmeini… ini lagi masa darurat, masa darurat yang gawat bagi kita.

Ketauilah Rosmeini abang ingin segera menghias jari manismu dengan cincin emas bertahta berlian.

Apa daya abang Rosmeini cintaku… abang kini pengangguran di PHK akibat pandemi.

Kapitalis gila mem-PHK abang tanpa diberi uang pesangon.

Lantas bagaimana abang bertahan hidup dikota orang, padahal uang harus tetap berlayar menuju kampung halaman untuk jajan emak seorang.

Lantas bagaimana abang membeli makan dan membeli keperluan lain untuk bertahan hidup.

Dan lantas bagaimana abang membeli sabun batang lagi… yang hargannya naik akibat pandemi.

Tapi abang belum bisa bahkan tertunda untuk menaikimu cintaku…. Oh, Rosmeini.

Kusudahi imajinasi agar tidak bertambah liar, biar kusimpan liarnya untuk nanti dikamar mandi.

Kuseruput lagi kopi hitam dan kuhisap lagi rokok kretek lokal.

Pandangan beralih ke Koran, kubaca judulnya dengan memicingkan mata dan mengerutkan dahi.

Oh ternyata si tuan  mengeluarkan kebijakan baru untuk para titahnya.

Dimasa darurat ini si tuan bersabda menurunkan kartu pra kerja, riuh orang senasib dan sepenanggungan sama denganku menyambut berita itu.

Berbondong – bondong mendaftarkan diri, mungkin mereka pikir itu gaji untuk pengangguran.

Hah… kurasa ini halu, kurasa ini bualan baru dan kurasa jangan – jangan ini hanya ditipu ?

Ya tuan, dirimu bagaikan pandhita yang sabdanya mampu menyihir kami yang hanya para titah.

Kuhargai sabdamu itu sebagai usahamu untuk titahmu, namun apakah benar begitu tuanku ?

Hah… dimasa darurat ini kami butuh makan bukan pelatihan, sadarlah tuanku…

Titah-titah ini hanya bisa termangu-mangu menunggu keajaiban darimu tuanku.

Titah-titah ini sekarang menjadi tahanan rumah tanpa sipir yang memberi makan.

Lantas bagimana tuan ?

Bisa-bisa kami tidak mati karena pandemi, tapi mati karena tidak bisa mengisi perut kami.

Gaji sudah menjadi kenangan tapi hidup harus tetap berjalan.

Namun tiada lagi yang bisa digunakan merajut, pengharapan dan penghidupan kabur. Dan yang paling gawat tertunda lagi untukku bisa mengawini cintaku si Rosmeini.

Penulis : – Sugar Palm –   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here