Home Uncategorized Seven Deadly Sins dan Dosa Kebodohan

Seven Deadly Sins dan Dosa Kebodohan

2
0

Dunia maya memang ibarat belantara asing. Luas, namun tanpa arah. Bulan ini, ramai diberitakan ihwal penangkapan administrator akun Twitter @TM2000 oleh Penyidik Subdit Cyber Crime, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. RN disinyalir melakukan tindakan pemerasan terhadap salah satu petinggi PT. Telkom, berinisial AS. RN juga diduga sebagai aktor interlektual di balik penyerangan akun twitter tersebut. Jamak kita ketahui, sebelum berganti nama menjadi @TM2000, akun ini bernama @TrioMacan2000. Akun yang mahsyur karena sering memberi kritik politik pedas pada para politikus Indonesia ini juga sempat membuat heboh lini massa ketika sempat memunculkan isu perselingkuhan Inggrid Kansil, istri mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarief Hasan dengan Ryan Syarif (CNN Indonesia, 2014).

Kasus diatas hanyalah satu dari ratusan atau lebih kasus yang menjamur di dunia maya baik di dalam maupun di luar kendali tim penyidik. Pekan ini, jagad dunia maya juga digemparkan oleh kasus MA yang menghina Presiden Jokowi lewat fitur gambar. Selain itu, kita telah kenyang dan kritis pada banyak akun juga situs-situs yang terkenal melakukan aksi propaganda ke masyarakat maya dengan menyebarkan fitnah atau kebencian.

Dunia dalam jejaring (daring) dipenuhi oleh manusia-manusia yang mengerti teknologi digital, namun sebagai manusia mereka tentu memiliki motif yang berbeda-beda. Dunia bayang-bayang ini tidak hanya berisi manusia berpengetahuan yang menyebarkan kebaikan, namun juga jenis manusia yang tidak bertanggung jawab. Motif bisnis, politik, sosial, budaya bahkan sekadar iseng-iseng berjalin-kelindan menjadi satu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang menunjukan kesetiaannya terhadap moralitas, namun dalam dunia digital ia adalah manusia ingkar. Sebaliknya, di alam nyata ia adalah sejenis manusia yang tidak patuh terhadap moralitas, namun di dunia maya ia memoles kepribadiannya tersebut melalui citra virtual.

Saya ingin menarasikan sebuah paradoks, atau mungkin layak juga disebut ironi. Begini. Setiap hari saya menulis berita. Berita saya mengandung 5W+1H layaknya hardnews, saya unggah di laman dotcom dan dibaca oleh minimal ribuan pembaca tiap harinya. Apakah saya seorang jurnalis? Bukan. Saya hanya seorang kepepet yang kadang butuh uang untuk makan dan membeli buku. Saya adalah kacung dari tuan dotcom (pemilik ratusan domain dotcom) yang dikelola untuk menjadi lahan subur bagi dollar.

Saya tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik. Dalam menghasilkan berita, jika kebetulan saya sedang senggang, maka berita akan saya sunting dan verifikasi berdasar teknik perbandingan sumber berita mayoritas. Tapi jika saya sedang sibuk “jika tidak layak menyebut malas” tak jarang saya hanya melakukan kerja copy-paste dari sumber mana suka untuk memenuhi tenggat pekerjaan. Berita produk copy-paste itu tersebar luas dan nyatanya mendapat minimal viewer mencapai angka puluhribu dalam hitungan jam. Viewer terkonversi menjadi Dollar. Dollar diperoleh Bos saya. Saya puas hanya dengan recehan.

Situs itu memakai nama dan design meyakinkan hingga tampil layaknya portal berita profesional. Siapa saja ‘jurnalis’ situs dotcom itu? Saya juga tidak tahu. Maaf, saya menjadi buruh ketika benar-benar kepepet. Bos saya tiap bulan bisa saja ganti-ganti. Seringnya, kami jarang kenal atau bertatap muka. Jika relasi dengan Bos saja begitu, apalagi antar buruhnya –yang saya tak tahu kualitas mereka; mungkin lebih baik atau lebih buruk dari saya. Pertanyaan akhirnya, kenapa saya mau melakukan pekerjaan semacam itu? Dalam hal ini, kembali saya menjawab ringan,”Apa anda yakin bahwa yang saya ceritakan itu memang benar saya pribadi atau saya hanya sekadar menarasikan?”. Itulah absurditas dunia dalam jejaring.

Kovach dan Rosenstiel dalam Sembilan Elemen Jurnalisme (2001) memaparkan sembilan unsur yang menjadi keabsahan laporan jurnalistik. Hal pertama dan utama yang selalu menjadi perdebatan adalah perihal kebenaran. Dalam setiap isu, masyarakat akan selalu bertanya : Kebenaran yang mana? Kebenaran menurut siapa? Bukankah tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat pemikiran punya dasar perihal kebenaran yang tidak sama identik sama satu dengan yang lain?

Kebenaran jurnalisme media menurut Kovach adalah apa yang disebut sebagai kebenaran fungsional, yakni tentang prosedur dan proses. Kebenaran dalam jurnalisme adalah terlaksananya teknik penggalian informasi serta disiplin verifikasi. Jamak dalam semua profesi, sebenarnya memberlakukan kebenaran sejenis. Polisi, hakim, guru, pemimpin perusahaan adalah para justifier kebenaran fungsional. Kebenaran dalam jurnalisme bukanlah kebenaran secara hakikat, filsafati, namun sebatas kebutuhan seseorang kepada informasi yang faktual dan aktual.

Problematikanya adalah, jika projournalism (jurnalisme profesional) bekerja berdasar sembilan iman jurnalistik Bill Kovach, yang masih sangat memperhatikan kebenaran fungsional, lalu dengan apa situs-situs dotcom tersebut bekerja? Seven Deadly Sins.

Lukas Luwarso dalam buku Pelanggaran Etika Pers (2007) menyebut ketujuh dosa besar itu adalah : Penyimpangan informasi, dramatisasi fakta, serangan privasi, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracuni pikiran anak dan penyalahgunaan kekuasaan. Sayangnya, tujuh dosa besar itulah yang memiliki lahan Dollar di Indonesia. Situs-situs dengan topik seks, hiburan dan kecantikan tercatat paling banyak diakses dalam negeri darurat karakter ini.

Seven Deadly Sins adalah iman para bos peternak dotcom (yang kadang tak malu menyebut diri melakukan kerja citizen journalism). Berdasarkan iman seven deadly sins, situs-situs itu dapat mengelola ratusan domain per hari hanya dengan memainkan kata kunci untuk menyusun artikel hingga jebakan-jebakan pada level judul. Mereka sangat paham budaya masyarakat yang gemar bergosip dan anehnya kehidupannya menjadi sangat dinamis berkat gosip. Mereka sangat paham bahwa hari ini banyak orang justru ingin menunjukkan bahwa saya tahu lebih dulu, saya tahu lebih cepat, dan saya tahu lebih banyak. Maka, berlomba-lombalah orang mengumpulkan berita, berkomentar, menyebarluaskan kejadian atau informasi lewat media digital yang tidak dikekang-kekang, tidak disunting-sunting, tidak dikontrol oleh pemilik media.

Hiperrealitas dunia maya membuat manusia menjadi asing dengan dirinya dan dunia sekitarnya. Yasraf Amir Pilliang (2011) menyebut hiperrealitas sebagai sebuah kondisi terhadap matinya realitas, yaitu diambilnya posisi realitas itu oleh apa yang sebelumnya disebut nonrealitas. Ia mewujudkan dirinya menjadi realitas artifisial yang bersifat faktual, lewat kemampuan sains dan teknologi seni dan citra. Ia adalah sebuah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas telah dilampaui dan diambil alih oleh substitusi yang tercipta secara artifisial lewat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya, banyak orang mati-matian membela antau menyebar fitnah dan caci maki pada Nabi-Nabi baru dalam dunia jejaring, dengan kerelaan, tanpa memperoleh sanjungan apalagi imbalan.

Selamat datang pada mazhab berita dimana orang merasa bebas untuk menyampaikan apa yang saya ingin sampaikan tanpa rasa was-was, tanpa rasa malu ataupun bersalah. Toh, kalau kemudian ternyata apa yang  diwartakan tak sesuai kenyataan, itu adalah hal gampang, tinggal koreksi dan buat saja berita baru. Untuk situs detikan, hal tersebut adalah lahan subur bagi Dollar.

Oleh : Kalis Mardi Asih; Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Surakarta

Surakarta, 14 November 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here