Home Uncategorized Misteri Garis Tangan

Misteri Garis Tangan

2
0

Berikut percakapan antara wartawan Nova dan Ibu Mita, seorang Grapholog lulusan dari Authentic School

Seperti apa pekerjaan “graphologist & behaviour assesor”? Grafologi adalah ilmu membaca (menganalisis) tulisan dan coretan tangan. Pekerjaan saya sebagai grafologis adalah menganalisis kepribadian atau masalah yang dialami seseorang dari coretan tangannya, baik tulisan maupun gambar. Sedangkan sebagai behaviour assesor, saya akan menilai seseorang berdasarkan tiga faktor, yaitu potensi dasar seseorang yang terlihat dari tulisan tangan, bagaimana potensi itu dikeluarkan, dan bagaimana reaksi orang itu ketika berada di bawah tekanan. Dari reaksi inilah, akan terlihat jenis pekerjaan apa yang cocok baginya. Sebetulnya saya lebih suka menyebut diri saya sebagai personal consultant, karena fokus saya dalam menjalani profesi ini adalah communication behaviour. Sebab, umumnya masalah terjadi karena persoalan perilaku komunikasi yang salah, terutama dalam hubungan antar anggota keluarga. 

Mengapa analisisnya lewat tulisan tangan? Karena proses kerja dan hasilnya lebih cepat diketahui. Bentuk tulisan tangan sebetulnya merupakan hasil print-out dari pola, cara atau format berpikir seseorang di alam bawah sadarnya. Sehingga banyak hal bisa diungkap dari situ. Tingkat keakuratan analisisnya, menurut sebagian grafologis, mencapai 90 persen. Namun, menurut saya, 70 – 80 persen saja sudah sangat bagus.

Apa manfaatnya ? Bermanfaat bagi anak yang kesulitan belajar, calon mahasiswa yang ingin mengambil jurusan, karyawan yang ingin mengenali potensinya, dan sebagainya. Terapinya disebut graphoteraphy, untuk membantu mengubah format atau cara berpikir seseorang di alam bawah sadarnya, dengan mengubah bentuk huruf tertentu yang biasa ia tulis. Graphotherapy sangat efektif untuk anak-anak sampai usia 13 tahun. Lebih dini memang lebih baik, sehingga ketika terjadi suatu masalah, bisa cepat ditangani.

Gambar juga bisa dianalisis? Iya, setiap gambar atau doodle menunjukkan sesuatu yang sedang dipikirkan pembuatnya. Itu sebabnya, dari gambar yang dibuat manusia di gua-gua ratusan tahun lalu bisa diketahui pembuatnya lelaki atau perempuan, sedang hamil atau tidak, bagaimana suasana hatinya ketika menggambar, dan sebagainya. Namun, gambar ini hanya pelengkap analisis bila saya perlukan. Yang utama adalah tulisan tangan.

Grafologi bisa membantu polisi mengungkap tindak kriminal ? Bisa. Di Amerika, Kanada dan Australia, grafologi dipakai oleh bagian forensik dan hasilnya diakui pengadilan setempat. Biasanya, saya diminta sebuah perusahaan yang sedang kehilangan barang berharga untuk menemukan pencurinya atau menemukan pegawai yang korupsi. Saya juga banyak diminta perusahaan untuk ikut mengasesmen pegawai. Kalau pihak HRD menilai dari sisi hardware alias skill-nya, saya menilai dari sisi software-nya, misalnya kejujuran, dan etika kerjanya.

Bagaimana dalam berhubungan dengan klien? Pertama, saya akan meminta tulisan tangan klien, boleh tentang apa saja dan disertai tanda tangannya, di kertas HVS tanpa garis, minimal 10 baris tulisan. Minimal 10 baris karena dianggap cukup mewakili kekonsistenan bentuk tulisan. Kertasnya harus tanpa garis agar base line tulisan itu terlihat. Dalam grafologi, base line akan menunjukkan banyak hal, antara lain mood dan optimisme seseorang.Hasil tulisan ini bisa dikirimkan lewat pos atau kurir, tapi tidak boleh lewat surel atau faks. Harus asli, biar saya tahu tekanan tulisan itu. Hasil analisisnya saya berikan dengan detail secara tertulis, sekaligus merekomendasikan untuk terapi yang harus dilakukan. Baru setelah itu saya dan klien bertemu.

Proses terapinya? Graphotherapy berlangsung selama 30 hari nonstop, setiap hari latihan selama 10 menit. Ini termasuk latihan mengganti huruf, biasanya ada 2 – 3 huruf yang perlu diganti. Ini untuk anak-anak. Kalau usia klien sudah lebih dewasa, biasanya dengan pendekatan perilaku komunikasi. Masa terapinya berbeda-beda, tergantung kebutuhan. Umumnya, minimal empat kali pertemuan. Biasanya, orangtua yang menginginkan anaknya diterapi. Si orang tua sendiri harus bersedia mengawasi selama anak diterapi

Siapa saja klien Anda ? Kebanyakan keluarga yang punya anak ABG. Selain itu, saya juga menangani klien perusahaan. Yang sekarang juga banyak jadi klien saya adalah lulusan S2 yang bingung mau bekerja apa. Setelah lulus S1 mereka langsung melanjutkan S2, ketika pulang ke Indonesia bingung karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang ada.
Kebanyakan klien saya dari Jakarta, tapi ada juga dari Bandung, Magelang, Pekanbaru, dan sebagainya. Saya juga diminta menangani anak-anak korban kekerasan di sebuah lembaga perlindungan anak. Tulisan mereka khas, lho. Ini bisa terlihat antara lain ketika menulis huruf yang punya lower zone, misalnya huruf g. Ketika mereka menulis huruf g, bagian bawahnya berbentuk segitiga.

Mengapa mereka bisa punya ciri khas seperti itu? Karena mereka punya cara berpikir yang sama. Orang-orang yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya juga akan terlihat jelas cara berpikirnya lewat tulisan. Oh ya, kalau menangani klien anak-anak dalam keluarga, saya juga minta tulisan orangtuanya, terutama ibunya, juga ikut dianalisis. Karena, perilaku orangtua juga ikut menentukan keberhasilan si anak. Bagaimana bisa membantu anaknya, kalau si ibu tidak mengenali jati diri dan potensinya sendiri? Memang, sebaiknya seluruh keluarga di analisis sehingga perilaku komunikasi keluarga bisa terjembatani sekaligus. Jadi, mereka punya “bahasa yang sama” dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Bisa diberi contoh kasus? Seorang anak SMP nilainya di sekolah tak pernah lebih dari angka enam. Padahal ia berasal dari keluarga besar yang pandai. Oleh orang tuanya, dia diikutkan banyak les mata pelajaran. Setelah saya cek, ternyata dia punya hubungan yang buruk dengan ibunya. Dari hasil tulisan tangannya terlihat si anak punya self critic yang tinggi. Jadi, tanpa harus diingatkan, dia akan memperbaiki dirinya sendiri.Namun, ibunya tipe orang yang terus-menerus menasihati. Jadi, tiap ibunya ada di dekatnya, dia akan pindah ke ruang lain, karena ibunya biasanya akan menasihati panjang lebar. Setelah diterapi, termasuk dihentikan separuh lesnya, prestasinya meningkat pesat. Dari pengalaman saya, kalau anak dan orang tua sama-sama berpartisipasi aktif dalam terapi, hasilnya sangat signifikan.

Omong-omong, mengapa tertarik mempelajari grafologi?Lulus dari Jurusan Sastra Prancis di Universitas Padjajaran Bandung, saya jadi staf marketing dan MC acara pernikahan. Tahun 2001, saya mengidap kanker payudara stadium 3B, yang menjalar ke getah bening. Dari situ saya berpikir mengapa bisa kena kanker. Dari buku yang saya baca, 20 persen penyebabnya pola makan, pola hidup dan keturunan. Sisanya, pola pikir.Saya berkesimpulan sedang ditegur Tuhan, karena punya potensi A tapi pekerjaannya B. Sebetulnya saya enggak suka, akhirnya stres. Saya lebih suka kerja di bidang yang hubungan personalnya cukup tinggi, seperti sekarang. Setelah menjalani pengobatan, tahun 2006 saya kursus grafologi di Authentic School of Graphologic Jakarta, dilanjutkan beberapa kursus lain untuk mendukungnya. Hasil kursus saya praktikkan pada ketiga anak saya, Tiara Pradyta (22), Adisti Paramita (16), dan Aditia Iqbal (14). Setelah itu, melayani permintaan teman. Dari promosi mulut ke mulut, klien terus bertambah.

Pernah dikira sebagai peramal? Pernah. Mungkin karena masih jarang orang berprofesi seperti ini, ya. Untungnya, sejauh ini justru para klien yang mendatangi saya, jadi mereka sudah tahu profesi saya.

Kalau sedang tidak melayani klien, apa kegiatan Anda?Banyak. Saya anggota di Rotary Club Bandung (klub yang anggotanya tersebar di seluruh dunia, bergerak di bidang sosial, Red.), anggota Sahabat Kota di Bandung (organisasi yang salah satu kegiatannya melakukan penghijauan), les vokal dan karaoke. Selain itu, jalan-jalan dengan anak-anak (Mita sudah bercerai dari suaminya). Saya juga mengajar grafologi untuk guru-guru SMA di Bandung, ibu rumahtangga, mahasiswa, staf HRD dan pimpinan perusahaan. Kalau kursus grafologi biasanya per kelompok, hanya satu hari. Saya suka pekerjaan seperti ini, tidak terikat waktu dan tempat. Saya biasanya meeting dengan klien di mal, kafe yang nyaman, atau di rumah. Kalau terikat waktu, saya enggak bisa jalan-jalan, dong.

Surakarta, 1 Agustus 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here